Pesawat N219 Dijadwalkan Terbang Perdana Maret 2017

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merencakanan akan melakukan terbang perdana pesawat N219 pada bulan Maret 2017. N219 merupakan pesawat produk baru buatan PTDI penerus N250. Pesawat berkapasitas 19 penumpang itu didesain sebagai pesawat perintis yang mampu mendarat di landasan tanah, berumput, atau berkerikil, dengan panjang landasan 600 meter.

Awalnya N219 dijadwalkan akan terbang perdana pada akhir 2016, tapi batal karena terganjal permasalahan teknik serta pemeriksaan dokumen pesawat yang belum tuntas.

Penerbang perdana pesawat baru merupakan bagian dari rekayasa pesawat. Dalam proses itu, sejumlah parameter pesawat diuji. Untuk bisa mencakar angkasa, purwarupa pesawat harus memenuhi semua syarat kelayakan terbang. Berbagai dokumen pun diperiksa dan sejumlah tes juga harus dijalani hingga pesawat dinyatakan laik terbang.

“Insya Allah, semua bisa selesai dalam dua bulan ke depan,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Andi Alisjahbana seperti dilansir angkasa, Sabtu (21/1/2017).

Pesawat ini juga dirancang multifungsi dengan konfigurasi angkutan penumpang, kargo, evakuasi medis, surveilans, dan patroli. Pesawat buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan PTDI itu adalah pesawat terbaru di kelasnya dan diklaim punya banyak keunggulan, termasuk kecanggihan teknologi yang digunakan.


Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, berharap produksi N219 bisa dimulai tahin depan dan semua proses sertifikasinya bisa diselesaikan pada tahun ini.

Baca Juga:  PTDI dan Turkish Aerospace Industries Kerjasama Pengembangan Pesawat

“Semakin mundur penyelesaian sertifikasi dan terbang perdananya, produksi pesawat pun akan mundur sehingga kian besar peluang pasar pesawat berpenumpang 19 orang direbut pesaing,” terangnya.

Pesawat N219 sedang dalam tahap finalisasi. Foto: PT Dirgantara Indonesia

Di pasar internasional, pesawat pesaing N219 adalah Yunshuji-12 (Y12E) buatan Harbin Aircraft Manufacturing Corporation (HAMC) Tiongkok dan de Havilland Canada-6 (DHC6) produksi Viking Air Kanada. Jadi pasar sangat terbuka untuk pesawat ini, terutama pesawat ini sangat cocok sebagai pesawat perintis dengan bandara yang minimalis fasilitasnya.

Meski demikian, Andi yakin keterlambatan itu tak berlangsung lama dan dampaknya bisa diminimalisir. Terlebih, N219 memiliki banyak keunggulan dibandingkan pesawat sejenis, mulai dari sisi teknologi, kapasitas kabin, dan kemampuan terbang pesawat.


Sumber : Angkasa

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan