Pesawat Propeler COIN IOMAX AT-802, Andalan CAS di Timur Tengah

Pesawat berbasis propeller sekelas Tucano banyak dipandang remeh. Terutama dalam perdebatan forum militer antar bangsa. Super Tucano milik TNI sering dijadikan bahan tertawaan oleh negeri jiran Malaydia. Padahal bila menengok ke belakang, Tentara Diraja Malaydia pernah kewalahan menghadapi gerilyawan Sulu di Sabah. Salah satu sebab utamanya, angkatan udara mereka tak memiliki pesawat ringan sekelas Tucano untuk melakukan tugas Close Air Support (CAS) untuk menghalau gerilyawan dari udara.

Pesawat dengan propeler lebih aman dan efektif untuk misi CAS dibandingkan helikopter serang, terutama saat mendukung gerak maju pasukan menghadapi gerilyawan. Selain lebih aman dari jangkauan tembakan roket panggul karena terbang di altitude lebih tinggi dan serta mampu menghindar lebih cepat. Urusan pengeboman juga mampu lebih presisi dan cakupan lebih luas dibandingkan helikopter. Untuk pulang pergi dari lokasi sasaran juga lebih cepat dari helikopter sehingga bisa secara konsisten meneror pasukan gerilya dari udara.

Saat menghadapi pemberontakan sporadis Tentara Pembebasan Sabah (Sabah Liberation Army-SLA) di Sabah. Militer Malaysia kewalahan untuk karena hanya mengandalkan serangan dari darat. Jika mengandalkan pesawat jet bomber macam MiG29 atau Su-30MKM akan beresiko pada gerak pasukan di darat. Karena bom dari pesawat jet/fast mover memiliki radius kesalahan dari sasaran cukup lebar.

Salah satu pesawat propeller populer pesawat serang COIN (Counter Insurgency) AT-802U/I Archangel buatan perusahaan IOMAX. Di timur tengah, pengguanya adalah Yordania dan Uni Emirat Arab.

IOMAX mengembangkan AT-802U dari basis pesawat ringan AT-802 Air Tractor yang sebenarnya dikembangkan untuk operasi pertanian seperti penyemprotan hama, pemadam kebakaran, dan penyemaian hujan buatan. Perusahaan aslinya yaitu Air Tractor tercatat sukses menjual varian AT-802 ke seluruh dunia, termasuk ke BNPB yang menyewanya untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan.

Baca Juga:  Korael Berhasil Bikin Mesin Tank 1500HP, Indonesia dan Turki Jadi Calon Pembeli

Bentuknya khas pesawat pertanian, dengan fuselage lebar dan sayap membentang lurus untuk kestabilan di ketinggian rendah, roda pendarat yang tidak bisa ditarik. Dapur pacunya diisi mesin Pratt & Whitney PT6A-67F berdaya 1.600shp yang memutar lima bilah propeller, dan mampu memba2a AT-802U terbang selama 10 jam dengan muatan penuh.

AT-802U kemudian menerima sejumlah perubahan, khususnya untuk meningkatkan kemampuannya bertahan dari tembakan senjata ringan serta pemasangan sistem sensor untuk mengidentifikasi sasaran. Kokpit dan sekitar tangki bahan bakar menerima penambahan lapisan pelat baja yang kuat menahan impak peluru 7,62mm. Untuk menemukan sasaran di darat, AT-802U dilengkapi IOMAX Flexible Pod yang dipasang di pylon tengah. Di ujung pod tersebut terpasang bola elektro optik Wescam MX-15 yang dilengkapi kamera termal, night vision, dan laser designator untuk memandu bom pintar.

AT-802U mampu membawa 4 ton senjata di 8 pylon yang tersisa. Jika negara seperti Indonesia hanya memasang tabung roket atau bom Mk82 ke Super Tucano, AT-802U membawa muatan senjata canggih yang biasanya hanya diperuntukkan bagi pesawat tempur jet. Daftarnya mencakup roket pintar CIRIT buatan Turki dan DAGR 2,75”, bom laser Paveway II, atau rudal antitank AGM-114 Hellfire. Amerika Serikat memasok senjata-senjata canggih tersebut ke UAE dalam paket penjualan F-16 sebelumnya.

Di Timur Tengah, AT-802U dibeli dalam jumlah besar oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang memesan 24 unit pada 2011 dan mulai menerimanya untuk digunakan oleh Komando Pusat Pasukan Khususnya di Kamp Falaj Hazza, dekat Al Ain. 10 pesawat pertama, disebut Block I, datang pada 2013 dan enam di antaranya disumbangkan untuk AU Yordania. 14 pesawat sisanya, disebut Block II, selesai diserahkan pada 2015 dan menjalankan misi rahasia di Libya. Perbedaan antara Block I dan Block II ada pada kapasitas gotong senjatanya, dimana Block II menerima perkuatan struktur sayap dan pylon untuk membawa bom berpemandu laser.

Baca Juga:  Pilot Sukhoi Su-57 Juga Bisa Mengendalikan Drone Su-70 Okhotnik

UEA dikabarkan menginginkan untuk memesan 24 pesawat tambahan dengan kemampuan untuk membawa lebih banyak senjata lagi. IOMAX dikabarkan tidak mampu memenuhi spek tambahan yang diinginkan oleh AU UEA, sehingga akhirnya menghubungi Thrush Aircraft untuk mengembangkan AT-802 dengan spek khusus tersebut. Disebut AT-802U Block III atau kemudian disebut Archangel, pesawat ini didasarkan pada pesawat Thrush S2R-660. S2R-660 merupakan penyempurnaan lebih lanjut dari AT-802 dan menampilkan kokpit tandem dengan bubble canopy yang modern.

AT-802U dikabarkan digunakan oleh UEA secara rahasia di Libya untuk mendukung faksi Libya National Army yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar. AT-802U tersebut mulai tiba di Libya pada Juni 2015 dengan penanda atau marking yang disamarkan. Beroperasi dari Tobruk, AT-802U menghajar sasaran-sasaran milik faksi lain yang berpusat di Benghazi.

Menurut laporan dari Intelligence Online pada awal Januari 2017, serangan presisi yang dilakukan AT-802U dilakukan oleh pilot-pilot bayaran dari Reflex Response Company yang didirikan oleh Erik Prince, yang terkenal saat mendirikan Blackwater.

Sumber: angkasa/wikipedia

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan