Pesawat Tempur F-15C Pernah Patah Jadi Dua Saat Latihan Dogfight

F-15C upgrade foto: Shout.com

Pesawat tempur F-15C adalah andalan bagi US Air Force, AU-nya Amerika Serikat sejak 1972. Pesawat bermesin ganda berperan sebagai air superiority dan hanya digunakan oleh tiga negara saja sejak lahir, Yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Arab Saudi.

Sebagai pesawat kelas penjaga superioritas di udara, F-15 harus pandai bermanuver untuk meladeni dogfight dengan berbagai kelas pesawat tempur.

Namun kemampuanya pesawat ini sempat tercoreng saat sebuah unit F-15C milik AU AS yang bermarkas di Missouri patah jadi dua saat melaksanakan latihan rutin terbang tempur dogfight dengan formasi “Mick”.

Latihan dogfight yang berlangsung di atas pangkalan militer Linberg and Salem Military Operating Areas, St. Louis, Missouri itu ternyata merupakan latihan terakhir bagi unit 110th Fighter Squadron.

Saat latihan terbang empat unit F-15C yang dari Missouri Air National Guard (ANG) yang berpangkalan di Lambert Field St Louis itu dipimpin langsung komandan 110th Fighter Squadron, Letkol Michael Flanagan.

Ketika empat unit F-15C itu sedang melaksanakan simulasi teknik dogfight satu lawan satu tiba-tiba pesawat yang mendapat call sign “Mick 2” bernomor seri 80-0034 yang dipiloti Mayor Stephen Stillwel mendapat musibah.

Setelah melakukan manuver sebesar 7.8 g, Mayor Stilwell mulai merasakan adanya sesuatu yang tidak beres di pesawatnya.

Ia mendengar suara aneh seperti desingan sangat keras yang mengakibatkan jet tempur F-15C yang dipilotinya terguncang.

Dengan susah payah Stilwell berusaha menstabilkan pesawatnya pada posisi wing level attitude.

Yakin ada yang tidak beres pada pesawatnya, Mayor Stilwell segera mengontak komandan skadron, Letkol Flanagan yang pada saat yang sama juga sedang mengamati goncangan-goncangan aneh pada F-15C Mick 2.

Baca Juga:  Beli Jet Latih Yak-130, Persiapan Laos Membeli Sukhoi Su-30

Tapi laporan yang disampaikan oleh Stillwell bahwa pesawatnya sedang mengalami guncangan hebat dan sulit dikendalikan ternyata tidak bisa didengar oleh Letkol Flanagan.

Tepat pada saat Stillwell melakukan komunikasi radio tiba-tiba fuselage bagian depan tepatnya berada di belakang kokpit patah dan kemudian terlepas.

Demikian dahsyatnya efek patahan itu, kokpit yang masih berisi Stillwell dan dalam kondisi masih sadar terlempar. Ketika kokpit terlepas dan kemudian terlempar kecepatan dorongnya sekitar 805 km/jam.

Sebelum F-15C Mick 2 patah, Letkol Flanagan sebenarnya telah memerintahkan kepada Stillwell untuk eject.
Tapi perintah Flanagan tak bisa diterima oleh Stillwell karena pada saat itu, sistem komunikasi radio pada kokpit F-15C telah mengalami kerusakan.

Jadi baik laporan yang disampaikan oleh Stillwell maupun instruksi Flanagan sama-sama tidak sampai.
Yang jelas Flanagan menyaksikan semua yang dialami oleh F-15C Mick 2 termasuk saat kokpit terlepas dan Stillwell ternyata masih berada di dalamnya.

Tapi kondisi stabil F-15C Mick 2 hanya sebentar. Tak berapa lama kemudian menyusul goncangan hebat ke arah kiri dan kanan secara tak terkendali.

Flanagan kemudian berharap akan muncul pancaran api dari dalam kokpit dan itu berarti Stillwell sukses mengoperasikan kursi lontarnya. Tapi pancaran api yang diharapkan oleh Flanagan ternyata tidak muncul.

Untuk sekian waktu Flanagan masih terpaku pada kokpit F-15C Mick 2 yang terus meluncur turun dan tiba-tiba ia terkejut ketika bagian lainnya fuselage F-15C Mick 2 yang rontok nyaris menghantam kokpit pesawatnya.
Stillwell sendiri yang saat itu masih terperangkap di dalam kokpitnya yang terus berputar-putar bak rollercoaster berusaha mengaktifkan kursi lontarnya.

Upaya keras Stillwell akhirnya berhasil, kursi lontar bisa dioperasikan bersamaan dengan pecahnya kokpit pesawat ke dalam kepingan-kepingan yang kemudian jatuh menghujam ke tanah.

Baca Juga:  Sumbang Senjata ke Filipina, Rusia : Kami Tidak Ada Agenda Tersembunyi

Akibat berfungsinya kursi lontar secara tidak wajar itu, Stillwell mengalami cedera tulang pada bahu kirinya dan tulang atas lengan kirinya.

Namun, Stillwell yang masih sadar berusaha keras mengendalikan parasut sehingga bisa mendarat di tempat yang aman.

Saat Stillwell mendapatkan pertolongan medis dan diterbangkan ke St Louis dengan helikopter kondisinya tidak sadarkan diri.

Peristiwa rontoknya F-15C Mick 2 segera menyebabkan efek domino, markas besar USAF memerintahkan semua unit yang masih mengoperasikan F-15 untuk segera menggroundednya.

Kendati saat itu USAF masih belum menurunkan tim investigasi mereka sudah memiliki kesimpulan jika penyebab rontoknya F-15C Mick 2 karena faktor usia tua.

Usia rata-rata semua unit F-15 yang dioperasikan pertama kali sejak tahun 1972 adalah 23,5 tahun.

Para petinggi USAF dan pilo F-15 bahkan sudah maklum atas kejadian patahnya F-15C Mick 2 di atas Missouri. Saat itu, jumlah total F-15 yang digrounded dan menunggu investigasi sebanyak 700 unit.


Hasil investigasi yang dilaksanakan oleh Accident Investigation Board segera menemukan hasilnya.

Penyebab rontoknya F-15C Mick 2 adalah patahnya plat penghubung sekaligus penyangga, longeron, antara bagian kokpit dengan bodi pesawat lainnya.

Semua pesawat F-15 memiliki 4 longeron dan karena usia tua serta faktor kelelahan ( fatique) dalam pemakaian, longeron itu ternyata bisa patah mendadak.

Maka perintah menggrounded-kan semua unit F-15 oleh USAF sangatlah tepat. USAF pun tak begitu pusing dengan ratusan F-15 yang digrounded karena penggantinya sudah siap menunggu, yakni jet tempur siluman F-22 Raptor. (tribunnews)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan