Profil Pahlawan: Slamet Riyadi Ahli Strategi Yang Meninggal Di Usia Muda

Ignatius Slamet Riyadi atau biasa di panggil “Pak Met” dikenal sebagai Komandan pemberani dan ahli strategi yang handal walau usianya masih sangat muda namun sifat ke”Bapak”anya dalam memimpin pasukannya patut diteladani.

Saat menjabat Komandan Wehrkreise I (Panembahan Senopati) dengan tanggung jawab pertahanan wilayah Surakarta dan Madiun, Slamet Riyadi selalu berusaha untuk dekat dengan semua anak buahnya dan ingin mengetahui sampai rinci situasi di wilayahnya.

Untuk pindah dari satu desa ke desa lainnya, Slamet Riyadi bersama “Commando Groepnya” harus selalu berjalan kaki mengingat saat itu keterbatasan sarana komunikasi dan transportasi.

Perjalanan tersebut pada umumnya di lakukan pada malam hari untuk meminimalkan kemungkinan di sergap belanda. Tentu saja, perjalanan tersebut tidak selamanya berlangsung di bawah sinar bulan purnama. Mereka juga sering di siram hujan lebat, melewati jalan berlumpur di tengah hutan, atau di sergap gerombolan pengacau keamanan seperti yg pernah di alami di Pasar Jemowo, di lereng Merbabu-Merapi.

Salah satu pengalaman yang sangat menyentuh bagi Slamet Riyadi adalah ketika dia bersama pasukannya sedang menjelajah wilayah perbukitan tandus di pelosok kabupaten Wonogiri. Mereka berjalan kaki dari Pracimantoro menuju Donorojo, Menyeberang jalan raya antara Baturetno dan Pacitan, sebelum akhirnya sampai di Punung.

Perjalanan ke Punung bagi Slamet Riyadi merupakan “Nostalgia” karena di desa inilah beliau dulu berhasil menyadarkan anak buah Mayor Soedigdo yg sedang menuju madiun untuk bergabung dengan pemberontak komunis. Berkat imbauan Slamet Riyadi, mereka bersedia kembali ke pangkuan Republik. Tetapi hanya satu regu di bawah pimpinan Kasmo (kelak berganti nama menjadi Untung Samsuri) tetap pergi ke madiun.

Baca Juga:  Menguak Aksi Kanibalisme Permesta Pada Prajurit TNI

Selama mengembara di pegunungan tandus tersebut, menu makan mereka hanya Gogik (Ketela pohon yang di keringkan, kemudian direbus). Disinilah Slamet Riyadi dan pasukannya berdiam diri sebentar untuk memantau pergerakan belanda. Setelah berlama-lama, belandanya pun tidak menampakkan batang hidungnya.

Hingga suatu saat, seorang anak buahnya, teman sekelas semasa di SMP Mangkunegaran Solo, berkeluh kesah dan bertanya dengan nada polos :

“Pak, awake dewe suwe ana kene iki arep golek opo tho? Londo ora kepethuk, mangan gogik terus, banyu larange ngungkuli emas. Iki lho pak, bokongku wis lecet kabeh saben cewok mesti nganggo godong jati. kok kon betah neng kene kepriye?”.
“(Pak, kita berlama-lama disini sebenarnya mau cari apa tho? Belanda tidak ketemu, makan gogik terus, air mahalnya melebihi emas. Ini lho pak, pantat saya sudah lecet semua sebab setiap berak hanya di bersihkan dengan daun jati. Bagaimana kok di suruh hidup dengan nyaman di sini? “.

Slamet Riyadi dengan sabar menjelaskan kepada anak buahnya bahwa mereka pada tahap ini memang harus bersedia hidup prihatin agar cita-cita bersama untuk meraih kemerdekaan bisa tercapai. Kesabaran dalam menjelaskan sekaligus menjaga semangat perjuangan menunjukkan salah satu keberhasilan pola kepemimpinannya.

Apalagi, dalam kenyataannya, anak buahnya kebanyakan teman main semasa kecil dan teman sekolah yang sebaya. Dalam hal usia mereka tidak jauh berbeda, bahkan sebagian malahan lebih tua. Tetapi, ternyata mereka semua bisa kompak dan selalu loyal kepada Slamet Riyadi.

Baca Juga:  Pindad Selesaikan Panser Anoa Pesanan TNI Misi PBB

Salah satu kisah heroiknya, Slamet Riyadi berhasil memimpin Serangan Umum Kota Solo selama 4 hari dari tanggal 7 hingga 11 Agustus 1949. Serbuan frontal ini mengakibatkan 7 tentara Belanda tewas dan 3 orang lainnya menjadi tawanan. Kota Solo berhasil direbut.

Slamet Riyadi meninggal dunia terlalu dini pada usia 23 tahun. Pada 4 November 1950, perutnya terkena berondongan peluru di depan gerbang Benteng Victoria di Kota Ambon. Usai tertembak, Slamet Riyadi langsung diamankan untuk segera mendapatkan pertolongan medis. Meskipun perutnya terluka parah, ia terus memberikan instruksi agar disampaikan kepada pasukannya yang masih bertempur di Ambon. Di rumah sakit darurat di atas kapal di perairan Tulehu, Maluku Tengah, dokter dan tenaga medis lainnya berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa Slamet Riyadi.

Sejak kematiannya, Rijadi telah menerima banyak penghormatan. Sebuah jalan utama di Surakarta dinamakan menurut namanya, begitu juga dengan fregat TNI AL, KRI Slamet Riyadi. Selain itu, Rijadi juga dianugerahi beberapa tanda kehormatan secara anumerta pada tahun 1961, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 November 2007.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan