PT Dirgantara Indonesia Mulai Persiapkan Pesawat N219 Versi Amphibi

Melihat kembali proses sertifikasi N219, semula direncanakan sertifikat dapat diperoleh pada akhir 2018 namun seperti kita ketahui bersama proses sertifikasi baru akan selesai sebelum Maret 2019. Sertifikat dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPP) Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Lalu bagaimana program pengembangan N219 versi amfibi yang semula direncanakan setelah sertifikasi? Ternyata tetap berjalan sesuai rencana awal yaitu pada akhir 2018 desain versi amfibi mulai berjalan.

Pada akhir Oktober lalu dilakukan kunjungan Tim N219 ke fasilitas produksi Aerocet untuk mendapatkan gambaran nyata tentang alat apung amfibi/pengapung amfibi (amphibious floats). Alat ini diperlukan agar pesawat dapat melakukan pendaratan dan mengambang di atas air.


Aerocet Inc adalah perusahaan pemasok pengapung amfibi komposit terkemuka dari USA. Indonesia ternyata bukan negara baru bagi Aerocet, ternyata perusahan ini pernah mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA – Directorate General of Civil Aviation) pada tahun 2016 untuk produk sepasang Alat Apung Amfibi (Amphibious Floats) tipe 6650 yang dipasang pada pesawat Quest Aircraft – Kodiak 100 yang di Indonesia biasa digunakan oleh misionaris MAF.

Kodiak 100 adalah pesawat dengan 9 penumpang, panjang 10,4 m dan MTOW 3,2 ton tentu berbeda dengan N219 dengan 19 penumpang, panjang 26,3 m dan MTOW 22,0 ton, namun itu tentu bukan masalah bagi Aerocet untuk menentukan pengapung amfibi yang cocok, Aerocet sudah berpengalaman melaksanakan pekerjaan pengapung amfibi pada pesawat Cessna, Cub Crafters, De Havilland Canada (DHC), Piper dan Quest.

Baca Juga:  Qatar Tertarik Produk Senjata Pindad dan Kapal Perang PT PAL

Pesawat DHC-6 Viking berkapasitas 19 orang

Pengapung amfibi buatan Aerocet dengan bahan komposit ringan diklaim mampu menghilangkan kebocoran dan korosi dari pengapung aluminium yang lebih berat sehingga mengurangi waktu dan biaya pemeliharaan. Aerocet juga mendapatkan paten penuh atas “Oil-Bath Wheels” yang ada dalam pengapung, sehingga meminimalisir pemeliharaan bantalan (bearing) pengapung.

amphibious floats juga ada rodanya, siap mendarat di darat juga

Namun demikian, jika PT DI akan menggunakan acuan pesawat yang sekelas dengan N219 yaitu DHC-6, yang sama-sama mempunyai kapasitas 19 penumpang, saat ini alat apung yang digunakan adalah buatan Wipaire Inc USA, dimana tipe yang digunakan adalah Wipline 13000 Floats yang berikuran panjang 9,88 m, terbuat dari bahan komposit lapis aluminium, untuk melayani pesawat DHC-6 dengan panjang total 15,77m.

Kita tunggu desain definitif N219 versi amfibi ini muncul, kita harapkan pesawat amfibi ini dapat berjalan sesuai skedul yang ada.

Sumber: TSM/Defense Studies

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan