PT PAL Indonesia, Pernah Menjadi Galangan Terbesar di Asia

Prestasi PT PAL yang bisa memproduksi kapal perang Strategic sealift vessel (SSV) sangatlah membanggakan. Kapal ini diakui dunia sebagai salah satu yang terbaik di kelasnya. Setelah Filipina, Malaysia juga menyatakan minat pada kapal perang serbaguna ini.

Di tengah moncernya prestasi PT PAL, ada noda yang mencoreng prestasi setelah jajaran manajemen kini tengah diusut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dirut PT PAL M. Firmansyah Arifin dan beberapa pejabat lainnya telah ditetapkan sebagai tersangka.

PT PAL merupakan perusahaan galangan kapal pelat merah yang sarat akan sejarah. Didirikan saat Gubernur Jendral Van Der Capellen (1778-1848) membentuk komisi yang bertugas menyelidiki tempat dan sarana yang tepat untuk mendirikan industri perkapalan.

Tujuannya untuk menunjang Armada Laut Kerajaan Belanda di wilayah Asia. “Sejak 1822 observasi mulai dilakukan. Merujuk hasil penelitian komisi tersebut, Van Der Capellen menetapkan Ujung, Surabaya sebagai daerah yang memenuhi syarat untuk mendirikan industri perkapalan,” tulis peneliti sejarah Wenri Wanhar mengutip buku Jejak Intel Jepang seperti yang dilansir JPNN (Jawa Pos Group).

Nah, memasuki 1849, wujud nyata proyek tersebut mulai berkembang. Di Ujung sudah ada sarana perbaikan dan pemeliharaan kapal. Seiring berjalannya waktu, sesuai dengan kemajuan teknologi pada masa itu, galangan kapal itu terus dikembangkan.

Setelah benar-benar rampung, galangan kapal di Ujung, Surabaya diresmikan pemerintah Belanda pada 1939 dengan nama Marine Establishment (ME). ME merupakan galangan kapal terbesar di Asia pada masanya.

Di masa kejayaannya, ME memiliki pekerja sebanyak 6.000 orang. Lebih dari separuhnya pribumi. “Orang Indonesia yang bekerja di sana 5000-an. Orang Belanda tak banyak, cuma kepala-kepalanya saja,” kenang Affandi, pekerja ME generasi awal, sebagaimana dilansir dari dokumen arsip sejarah PAL, Dinas Penerangan Angkatan Laut Republik Indonesia.

Menurut cerita Affandi, jabatan tertinggi orang Indonesia di ME adalah Opsiter Kelas I, antara lain dijabat Supono. Bagian Kapal dijabat Susilo. Bagian Administrasi yang tertinggi Komisi I yang dijabat Moh. Harun dan dirinya Affandi sendiri di Komisi Kelas III.


“Pekerjaan yang dilakukan di ME meliputi reparasi kapal, mengadakan percobaan instrumen-instrumen atau alat-alat kapal seperti foto-foto, keker dan persenjataan yang agak komplet,” papar Affandi.

Pada awal perang dunia kedua, ME masih beroperasi sebagaimana biasanya. Nah, memasuki 1942, beredar desas-desus kabar rencana kedatangan Jepang. Ini sangat mengkhawatirkan. “Propaganda yang diembuskan Jepang berhasil. Belanda menutup ME sebelum diserbu Jepang,” tulis buku Jejak Intel Jepang.

Nah, ketika Belanda menutup ME pada awal 1942, Orang-orang Indonesia yang bekerja di sana tidak ada yang diperbolehkan keluar. Pemerintah Hindia Belanda hendak mengevakuasi pekerja-pekerja itu ke Australia.

Dari Ujung, pekerja-pekerja ME diangkut naik bus ke Cilacap dan kemudian diberangkatkan dengan kapal ke Australia. “Saya termasuk. Tetapi, saat akan berangkat, saya meloncat,” kenang Affandi.


Ternyata evakuasi pemerintah Hindia Belanda di Ujung tidak berjalan lancar. Hanya sebagian pekerja yang berhasil diberangkatkan. “Hanya satu kapal. Sebagaian besar tidak bisa berangkat karena telat. Jepang sudah keburu datang,” sambung Affandi.

ME, galangan kapal terbesar di Asia pun diduduki Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, peranan ME tidak berubah. Hanya namanya diganti menjadi Nagamatsu Butai. Nama itu digunakan selama empat bulan pertama. Selanjutnya diganti lagi menjadi Kaigunse 21-24 Butai.

Jumlah pekerja pun ditambah hingga 9.000 orang. “Zaman Jepang, 1942-1945, Direktur 21-24 Butai bernama Meringa,” ungkap Affandi. Bahkan, saat zaman Jepang, kapal selam juga mangkal di situ.

Masih mengutip buku Jejak Intel Jepang, pada suatu sore, petugas Angkatan Laut Jepang meminta Affandi mendirikan Hokokai SE 21/24 Butai di Ujung. Mereka mendapat pelatihan militer semacam Peta (Pembela Tanah Air) dengan nama Hokodan.

Berdasarkan penuturan Affandi, satu kelompok jumlahnya 300 orang. Mereka dilatih selama dua minggu. Selama mengikuti pelatihan, peserta menginap di Asrama Sidotopo, Surabaya. “Mereka ini mendapat gaji dan makan tiga kali sehari. Setelah dua minggu mereka dipulangkan dan datang lagi kelompok berikutnya dengan jumlah yang sama,” kenang Affandi.

Pelatihan itu terus menerus dilakukan hingga 10 periode dan memiliki lebih dari 3.000 orang terlatih.

Suasana di Ujung, di galangan kapal terbesar di Asia itu berubah lagi ketika Jepang kalah di tangan sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Affandi lantas mengorganisir para pekerja hingga mendirikan PAL. PAL merupakan singkatan dari Penataran Angkatan Laut. Organisasi ini didirikan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh bekas pekerja galangan kapal terbesar di Asia, yang berlokasi di Ujung, Surabaya.

sumber : jawapos.com

Advertisements

1 Komentar

Tinggalkan Balasan