Pushidrosal Sudah Jadi Kunci Pembuka Ekonomi dan Andalan Pertahanan Laut

Pusat Hidrografi dan Oseanografi (Pushidrosal) terus memperkuat diri sebagai lembaga nasional yang telah mendunia.

Pushidrosal diketahui menjalankan fungsi sebagai Lembaga Hidrografi Militer dan Lembaga Hidrografi Nasional Indonesia, sekaligus sebagai wakil pemerintah di International Hydrographic Organization (IHO). Kapushidrosal TNI Angkatan Laut Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan pihaknya akan terus melaksanakan penguatan lembaga hidrografi nasional sesuai dengan misi yang ada.

“Kalau dulu seakan-akan terkonvensional pekerjaannya hanya membuat peta laut saja, namun kini Hidrografi menjadi kunci gerbang perekonomian dan ujung tombak pertahanan laut Indonesia,” ujar Harjo di kantor Pushidrosal, Senin (2/4/2018). Menurutnya, tanpa hidrografi, Indonesia akan hancur.

Menurut survey data BPS, nilai ekspor impor barang di Indonesia per tahunnya mencapai hampir mencapai Rzp 300 triliun.

“Kalau seandainya pajak diambil maka
pemerintah menerima 45 trilun rupiah, melalui laut,” papar Harjo.

Semua kapal yang mengangkut komoditi ekspor impor melalui laut dan faktor penting dalam pelayaran kapal dengan tujuan ekspor impor tersebut adalah peta laut agar laut bisa dilewati dengan mudah dan aman.

“Jadi laut itu harus dipetakan, kalau tidak nilai asuransi akan meningkat tingi karena akan sering terjadi tabrakan kapal dilaut,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, Pushidrosal sudah melakukan peningkatan eksistensi fungsinya di dunia internasional, yang tadinya hanya sebagai anggota IHO, sejak April tahun 2017 Pushidrosal sudah menjadi anggota dewan IHO.

Baca Juga:  SAAB Mundur dari Kompetisi Jet Tempur Belgia

“Kemudian saya kembangkan lagi Pushidrosal agar memberikan pengaruh di tingkat regional yang tadinya hanya sebagai members di East Asia Hydrographic Commission (EAHC) yang anggotanya adalah China, Korea, Jepang, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Brunei, Filiphina, Thailand dan Singapore,” tuturnya.

Indonesia juga sudah menjadi member di
North Indian Ocean Hydrographic Commission (NIOHC) di wilayah Samudera Hindia.

Anggotanya yakni semua negara yang ada di wilayah Samudra Hindia, dan terakhir bulan Februari 2018 sudah menjadi member di South West Pasific Hydrographic Commission (SWPHC) di Pasific Selatan.

Lebih lanjut, Harjo menilai apabila Indonesia sudah menjadi member, maka sekarang Indonesia sudah bisa memberi pengaruh dibidang Hidrografi.

Indonesia sekarang di East Asia sudah
dipercaya menjadi Vice Chairman selama tiga tahun kedepan, itu artinya setelah tiga tahun Indonesia bisa menjadi Chairman di EAHC, sedangkan di Selat Malaka, Pushidrosal sudah dipercaya menjadi ketua pengelola atau Chairman di MSS ENC yang selama ini dipegang oleh Singapore selama 10 tahun.

“Artinya Indonesia sudah mempunyai pengaruh hidrografi disana, silahkan pemerintah mau bersama saya masuk kesana dengan tujuan-tujuan lainnya, misalnya hubungan politik dengan negara-negara kecil di Pasific seperti Solomon, Fanuatu, Tonga, Kiripati, Oak Island, yang terkait dengan masalah Papua merdeka, ini kan sangat signifikan,” kata dia.

“Jadi Indonesia sebagai lembaga hidrografi nasional sudah diakui di dunia internasional, yang selama ini tidur, saya masuk NIOHC yang biasanya 4 tahun baru diakui, datang sebagai observer, dihari pertama langsung dinyatakan sebagai associate member. Pada hari kedua dipertimbangkan menjadi full member, hari ketiga sudah menjadi full member yang artinya adalah Indonesia memiliki hak akan bisa menjadi ketua, dan sudah diminta pada tahun 2019-2020 untuk menjadi wakil ketua dulu, karena kita sudah mempunyai kemampuan hidrografi,” ungkap pria kelahiran Tegal ini.

Baca Juga:  Panglima TNI Curiga Abu Sayaf Punya Mata-mata di Indonesia

“Harapannya mudah-mudahan di lima tahun mendatang Indonesia sudah ada perwakilan yang duduk di IHO, paling lambat 10 tahun mendatang kita menjadi direktur atau sekjen, saya sudah persiapkan orangnya agar kita menjadi pemimpin hidrografi dunia,”
pungkasnya. (tribunnews)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan