Redam Aksi Demo 2 Desember, Polisi Sebar Maklumat dari Helikopter

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) makin giat meredam aksi umat Islam jilid III yang direncakan akan kembali digelar pada 2 Desember 2016. Selain sosialisasi salah satu cara yang tidak biasa pun ditempuh. Selasa Siang (22/11) tampak helikopter berputar-putar di area Menteng dengan menebar kertas selebaran.

Dalam kertas selebaran tersebut, adalah Polda Metro Jaya yang mengeluarkan maklumat. Isinya tentang 4 hal.

1. Tentang ketentuan yang harus dipatuhi bila ada aksi 2 desember nanti.
2. Larangan membawa senjata tajam.
3. Waktu unjuk rasa hanya dari jam 06.00 pagi sampai 18.00 sore.
4. Dilarang menuntut penurunan Presiden (makar pada Presiden) ataupun makar memisahkan diri dari NKRI.

“Saya lihat helikopter diatas kantor menebar kertas, kemudian mutar lagi dari Tugu Tani ke sekitaran Cut Meutia”, ujar Samsul yang sedang di Jalan Menteng Raya.

Ichsan, salah satu karyawan di sekitaran Menteng bercerita, “Saya mendapat selebaran ini dari lantai 5 kantor saya, isinya maklumat terkait penyampaian pendapat di muka umum”.


Banyak sekali kritikan dari orang di sekitar Menteng terkait aksi ini. “Persis jaman Orde Baru saja sekarang, mau aksi damai saja dihalangi”, saut Mas Putra.


“Polisi kok malah menebar sampah kertas lewat helikopter”, tambah Iqbal yang juga warga di sekitaran Menteng.

“Polri jangan menebar provokasi dengan menebar maklumat via helikopter”, terang Pedri Kasman selaku pelapor kasus penistaan Al Qur’an oleh Ahok.

Baca Juga:  Politikus PDIP Tolak Libatkan TNI Dalam Perangi Terorisme

Sudah kita ketahui bersama, Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) MUI sudah mengumumkan akan melakukan aksi Bela Islam III hari Jum’at, 2 Desember nanti.  

Meski menyatut nama MUI, namun GNPF tidak berafiliasi sama sekali pada MUI. Pihak MUI juga sudah memanggil Habib Rizieq (Ketua FPI) dan KH. Bachtiar Nastir (Ketua GNPF) untuk tidak menggelar demonstrasi.

Diprediksi oleh beberapa pengamat, jumlah orang yang ikut aksi ini dua kali lipat aksi sebelumnya, atau sekitar 5 juta. Konsentrasi massa yang lebih besar akan semakin mudah disusupi provokator dan bisa membahayakan stabilitas keamanan dan politik.

Berikut selebaran dari Polda Metro Jaya.

Foto: sangpencerah.id

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan