Rencana Amerika Serikat Setelah Kalah Perang di Suriah Melawan Rusia

tentara suriah usai menembus blokade kota deir ez zor dari tangan isis ©Sputnik

Sejarah akan mencatat kekalahan besar Amerika Serikat (AS) di Suriah. Ini setelah pasukan pemberontak anti Bashar Assad dan kelompok ISIS semakin hancur kekuatanya melawan Pasukan Pemerintah Suriah yang didukung Rusia. Rusia sendiri sekarang boleh jumawa mengklaim sebagai pemenang di Suriah.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Libanon Jamal Wakeem mengatakan bahwa kondisi di Suriah sekarang ini, memperlihatkan AS kian mengalami kekalahan. Mereka gagal menjiplak skenario menggulingkan Moammar Qadafi di Libya ke Suriah. Sekarang AS akan bertahan dengan cara apapun supaya bisa masuk ke agenda perundingan, mencoba tampil sebagai pahlawan di atas meja.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan Sabtu lalu pasukan Suriah berhasil membebaskan Kota Al-Mayadeen di Provinsi Deir es-Zor dari cengkeraman ISIS. Saat ini masih tersisa sekitar delapan persen wilayah Suriah yang masih dikuasai ISIS.

Wakeem menuturkan hanya tinggal persoalan waktu saja bagi pasukan Suriah dibantu Rusia untuk menguasai kembali wilayah-wilayah yang direbut ISIS.

“Tapi pada saat yang sama ada tantangan besar bagi pasukan Suriah dan sekutunya, yaitu campur tangan Amerika di wilayah utara Suriah karena mereka (AS) mendukung pasukan Kurdi menguasai daerah itu supaya AS tetap punya pengaruh di utara Suriah,” kata Wakeem, seperti dilansir laman Russia Today, Ahad (15/10).


Pembebasan Al-Mayadeen, kata Wakeem, sangat penting bagi pasukan Suriah karena itu memperkuat kekuasaan mereka di salah satu kota kunci yang menghubungkan Suriah dengan Irak serta mempertegas kekuatan mereka di Provinsi Deir ez-Zor. Kemenangan ini bisa mencegah Amerika dan sekutunya menguasai wilayah utara yang ingin menjadikan daerah itu kawasan otonom. Apalagi saat ini pasukan Kurdi dibantu AS menguasai Raqqa dan memaksa ISIS mundur dari kota itu dan mendesak mereka ke timur untuk menghalangi pasukan Suriah merebut wilayah yang menghubungkan daerah itu dengan Irak.

Baca Juga:  MiG-35 Akan Bergabung di Garis Depan Rusia

Selanjutnya Wakeem juga menambahkan, taktik yang diterapkan AS, baik di Suriah dan Irak, adalah menghancurkan sebanyak mungkin supaya kota yang dibebaskan tentara Suriah dari ISIS itu sulit untuk dibangun kembali. Pada saat yang sama mereka ingin mengalihkan konflik ini menjadi isu warga sipil yang menderita, terutama setelah Amerika kian mengalami kekalahan di lapangan, baik di Irak dan Suriah. Amerika kini berusaha bertahan semaksimal mungkin supaya bisa masuk ke agenda perundingan.

“Saya yakin hal semacam ini serupa dengan yang terjadi di Mosul, misalnya, ketika AS membombardir kota itu dan menghancurkan hampir 80 persen wilayah barat Mosul.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan