Rencana Terjun ke Perkebunan Teh, Paskhas TNI AU Malah Turun di Markas Belanda

Dalam Operasi Trikora pembebasan Papua dari cengkeraman penjajah Belanda pada 1960-an. Salah satu pasukan garda terdepan adalah Korps Paskhas TNI AU yang saat itu masih sebagai Angkatan Udara Republik Indonesia ( AURI).

Ada beberapa peristiwa penting, satu di antaranya pengibaran Sang Saka Merah Putih pertama kalinya di Bumi Cendrawasih.

saat Operasi Trikora, AURI menfirimkan pasukan untuk infiltrasi ke Irian Barat sebanyak 532 orang.

Secara keseluruhan, jumlah TNI, Polri dan relawan yang diinfiltrasikan selama Trikora adalah 1.154 personel dengan jumlah korban jiwa 216 gugur/hilang dan 296 tertangkap.

•Penerjunan pertama
Peristiwa itu terjadi pada 25 April 1962, saat operasi Banteng Ketaton.

Sebanyak 40 orang pasukan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dipimpin Sersan Mayor (U) J Picaulima diterjunkan untuk pertama kali di Irian Barat, tepatnya di daerah Fak-Fak.

Penerjunan juga dilakukan di daerah lain pada 26 April 1962, yaitu 39 personel di Kaimana.


Pada 11 Mei 1962, pasukan PGT dibawah pimpinan Letan Satu (U) Manuhua melaksanakan penerjunan di Sorong saat Operasi Serigala.

Satu kisah heroik dan bersejarah yaitu peristiwa pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk pertama kali dipancangkan di bumi Cendrawasih, Irian Barat.

Pengibaran oleh PGT itu atas inisiatif Sersan (U) MF Mengko.

Pada 19 Mei 1962, sebanyak 81 anggota PGT bertolak dari Pangkalan Udara Pattimura, Ambon, menggunakan pesawat Hercules yang dipiloti Mayor (U) TZ Abidin.

Baca Juga:  Liem Wong Su, Prajurit TNI Yang Dijuluki Mulut Berbisa

Pasukan menuju sasaran daerah penerjunan sekitar Kampung Wersar, Distrik Teminabuan.

Pada dini hari, mereka diterjunkan tepat di atas markas tentara Belanda. Pertempuran jarak dekat terjadi.

Sementara itu, prajurit PGT juga tidak menyangka akan diterjunkan di markas tentara Belanda, karena sebelumnya mereka dibriefing akan diterjunkan di perkebunan teh.


Dalam pertempuran itu, 53 anggota PGT AURI termasuk komandan tim Letnan Dua (U) Suhadi, gugur.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut di daerah Teminabuan, Sorong kini didirikan sebuah monumen yang diberi nama Tugu Merah Putih.

Beberapa waktu setelah itu, untuk memperkuat posisi tentara Indonesia di Irian Barat, dilaksanakan operasi Jatayu pada 14 Agustus 1962.

Kehebatan Pasukan PGT

Ada hal mengagumkan dalam diri Pasukan Gerak Tjepat. Mereka memiliki kemampuan untuk bertahan hidup (survival) tinggi.

Meski kondisi alam Irian Barat yang ganas, berhutan lebat dengan ketinggian pohon di atas 50 meter, binatang dan tumbuhan yang dapat dimakan langka, ancaman penyakit malaria, kekurangan logistik dan obat-obatan, PGT mampu survival.

Serangan gencar dari pesawat tempur maupun tentara Belanda juga muncul. Namun, mereka masih mampu bergerilya di dalam hutan sampai menjelang terjadinya gencatan senjata.

Prajurit PGT di kepekatan malam yang amat dingin diterjunkan di atas hutan-hutan belantara di dekat kota-kota kecil Irian Barat.

Pasukan harus berjuang melawan hutan belantara dengan pohon tinggi.

Baca Juga:  Kisah Mayor Abdullah, dari Tukang Becak jadi Komandan Batalyon TNI

Untuk sebelum mencapai tanah mereka harus bergelut dengan tali dan pisau komando agar bisa turun, karena rata-rata tersangkut dipepohonan.

Dari sembilan kali penerjunan selama operasi Trikora, di daerah Kaimana, Fak-Fak, Sorong serta Merauke, ada 94 orang prajurit gugur dan 73 orang terluka. Bravo TNI AU dan Paskhas!

Sumber: wikipedia/tribunnews.com

1 Komentar

Tinggalkan Balasan