Rusia Balik Serang Malaysia Terkait Sukhoi Su-30MKM Yang Krisis Suku Cadang

Krisis pesawat tempur Sukhoi Su-30MKM milik Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) yang banyak gak layak terbang langsung ditanggapin sama Rusia.

Untuk diketahui ya bro. TUDM atau AU Malaysia punya 18 unit pesawat tempur Su-30MKM. Pesawat ini punya mirip dengan Su-30MKI milik India dan digadang sebagai pesawat paling canggih di wilayah ASEAN saat ini.

Namun, dari 18 unit tersebur hanya 4 unit aja yang layak terbang. Pihak AU Malaysia mengeluhkan susahnya suku cadang pesawat ini.

Kabar ini langsung mengusik ketenangan Rusia. Karena merasa menjadi korban pencitraan yang buruk, akhirnya pihak Rusia melontarkan tanggapan.

Melalui kedutaan besar Rusia di Kuala Lumpur. Pihak Rusia mengklaim jika penyebab masalah ini karena Malaysia tidak mengikuti jadwal perawatan secara rutin.


Kedua, karena Su-30MKM mengadopsi sistem avionik gado-gado. Campuran barang buatan NATO dan Rusia.

Seperti diketahui, Su-30MKM yang dikembangkan dari basis Su-30MKI (India) punya jeroan sistem avionik yang berbeda dari Su-30 pada umumnya, yakni sudah kental dengan teknologi dari Eropa Barat. Sebut saja sistem avioniknya mengandalkan produk Perancis yang memang sudah lama punya pasar di Malaysia. HUD mengadopsi Thales CTH3022 wide angle holographic, begitu pula sistem IFF (Identification Friend or Foe) yang juga dibuat Thales.


Sistem pod pencari sasaran dan pengarah rudal menggunakan Thales yaitu Damocles targeting & NAVLIR pod. Selain asupan solusi dari Perancis, Saab South Africa juga ikut berkontribusi di Su-30MKM, yang dengan pemasangan Saab Avitronics MAW300 Missile Warning Sensor dan LWS350 Laser Warning Sensor. Untuk mendeteksi rudal dengan pemandu radar ada sistem RWS-50RWR.

Baca Juga:  Amerika Serikat Uji Coba Rudal Minuteman 3 Antisipasi Korea Utara

Masih dari pernyataan pejabat Kedubes Rusia di Kuala Lumpur, disebutkan permasalahan menjadi sesuatu yang harus dipecahkan antara pihak Malaysia dan Irkut Corporation (produsen Sukhoi). “Kurangnya pemeliharaan teknis, ditambah adanya pergantian kekuasaan di Malaysia, yang turut berpengaruh pada kontraktor, juga membawa dampak besar pada kucuran dana,” ujar sumber dari pihak Rusia.

Pihak Rusia mengklaim banyak negara yang telah mengoperasikan Su-30 tanpa ada masalah yang berarti. Misalnya Su-30SM Kazakhstan, yang tidak memiliki keluhan tentang kualitas produk, beroperasi andal dan memenuhi semua persyaratan taktis.

Beban biaya operasional Su-30 memang tinggi pada generasi Sukhoi sudah bukan rahasia lagi, dan itu sudah menjadi konsekuensi demi mendapatkan efek deteren. Dalam hitungan dollar, biaya operasional per jam Su-30 yang mengadopsi KM ditengarai juga menjadi sebab mangkraknya pesawat ini. Biaya operasional dan life cycle cost twin engine ditakar mencapai US$14 ribu.

Namun kabar terbaru, enam unit Su-30MKM sudah dalam kondisi layak terbang, sebagai buktinya keenam pesawat twin jet ini melakukan terbang formasi pada perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada 31 Agustus lalu.

Sumber: freemalaysiatoday.com/indomiliterm,com

2 Komentar

Tinggalkan Balasan