Rusia: Berhenti Cari Kambing Hitam Atas Perang Yaman

Seorang bocah Yaman tampak menangisi keluarganya yang tewas karena serangan udara pesawat koalisi Arab Saudi. Foto: AFP

Perang Yaman yang berlarut-larut tanpa ujung dan derita rakyatnya yang dikepung pasukan koalisi Arab Saudi benar-benar membuat geram utusan Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya.

Vasily Nebenzya mengatakan bahwa sekarang harus berhenti mencari kambing hitam atas perang paling memilukan ini dan mendorong ke arah perdamaian, hal tersebut disampaikannya dalam sebuah pertemuan Dewan Keamanan PBB.

“Upaya meluncurkan proses perdamaian yang berarti, telah gagal sejauh ini. Sementara situasi di Yaman, yang pertama dan terutama, situasi kemanusiaannya, telah menjadi bencana besar,” kata Nebenzya, seperti dilaporkan kantor berita Tass.

“Konflik Yaman sangat rumit mendorong kebutuhan untuk mencari proses perdamaian tanpa prasyarat, daripada mencari kambing hitam dengan mencoba menyesuaikan hasil yang diinginkan dengan rencana geopolitik seseorang,” papar dia.


Nebenzya mengapresiasi upaya memperbaiki situasi kemanusiaan di Yaman yang dilakukan oleh PBB dan beberapa negara, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Namun, ia menekankan bantuan kemanusiaan saja tidak dapat membantu menemukan solusi jangka panjang yang layak.

“Situasi ini perlu dibawa ke jalur politik. Di bawah keadaan kritis saat ini, penting bagi PBB untuk memiliki rencana tindakan yang jelas,” ungkap Nebenzya.

Perang antara pemerintahan sah Yaman dan pemberontak Houthi telah berkecamuk sejak Agustus 2014. Konflik tersebut memasuki fase aktif ketika koalisi pimpinan Arab Saudi ikut menyerbu negara tersebut.

Baca Juga:  Joanna Palani, Sniper Pashmerga Kurdi Yang Cantik Jelita

Arab Saudi, yang didukung oleh angkatan udara Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UEA, terlibat dalam operasi militer melawan para pemberontak. Mesir, Yordania, Maroko, dan Sudan juga merupakan bagian dari koalisi tersebut.

Menurut Pusat Hak Asasi Manusia dan Pembangunan Yaman, dalam 800 hari pertama serangan, lebih dari 12.500 warga sipil terbunuh. PBB mengatakan sepertiga penduduk Yaman atau sebanyak 22,2 juta orang membutuhkan bantuan, sementara tujuh juta orang menghadapi risiko kelaparan.


Yang mengerikan, ekspos publikasi terhadap perang Yaman ini sangat sedikit, berbeda dengan perang Suriah. Kondisi Yaman yang terkepung lautan dan gurun pasir juga tak memungkinkan rakyatnya untuk kabur mengungsi. Sedangkan Arab Saudi juga menutup perbatasan negaranya. Jadilah rakyat Yaman mati di tanahnya sendiri, digempur pasukan asing.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan