Rusia Gerah Teknologinya Dijiplak China, Sebut Pencurian

Hubungan China dan Rusia itu seperti Tom dan Jerry, akrab walau sebenanrya bersaing di dalam selimut.

Sejak Rusia masih Uni Soviet, keduanya malah sempat terlibat perang terbuka pada tahun 1969 walau juga bahu membahu melawan Amerika di Perang Korea dan Vietnam.

Nah yang terbaru, pihak Rusia mulai gerah. Sebagai info saja, Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), sepanjang 2014-2018, sebanyak 70 persen impor senjata China dari Rusia.

Nah banyak yang senjata buatan Rusia yang dicontek mentah-mentah sama China. Contoh, Rusia menjual 24 jet tempur Sukhoi Su-35 dan enam perangkat sistem senjata anti serangan udara S-400 ke China senilai total US$ 5 miliar pada 2015 lalu.

Pesawat JH-11 jiplakan dari Sukhoi Su-27

Senjata buatan Rusia kemudian diurai lalu dibuat kopianya secara total.

Sukhoi Su-27 dan sistem rudal S-300 buatan Rusia lalu dibuat versi fotokopi China-nya untuk pengembangan jet tempur bikinannya sendiri, J-11, dan rudal darat ke udara HQ-9.

“Mencontek perangkat militer kami adalah sebuah masalah besar. Sudah ada 500 kasusnya selama 17 tahun,” kata Yevgeny Livadny, pimpinan proyek properti intelektual di Rostec.

Rusia sempat menerapkan beberapa kebijakan, seperti memaksa China, dalam impornya, membeli satu paket persenjataan ketimbang hanya beberapa perangkat untuk mencegah reverse engineering ala China. Rusia juga meminta jaminan tak ada pencurian hak cipta dalam kontrak jual belinya.

Baca Juga:  Ketemu Dubes Korsel, Prabowo Bahas Pesawat IFX/KFX

Kozyulin menilai kebijakan itu tak banyak membantu, dan belakangan pun Rusia tak lagi mempermasalahkannya. Menyerah pada pada si pencuri