Rusia: Inggris Sedang Memprovokasi Kami Untuk Mengalihkan Isu Brexit

Ilustrasi kemarahan Putin atas tindakan diplomasi Inggris. Gambar: Daily Star

Konflik pembunuhan agen ganda dan putrinya sedang memanaskan hubungan Inggris dan Rusia. Konflik ini dikhawatirkan akan menyeret NATO untuk menyerang Rusia. Selama ini, NATO sudah cukup menahan diri dari agresi militer Rusia ke Crimea dan Ukraina.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB yang berlangsung pada Kamis, 5 April 2018, Duta Besar Rusiauntuk PBB, Vassily Nebenzia mengklaim bahwa Rusia adalah korban dari sebuah kampanye pencemaran nama baik yang gegabah, ceroboh, dan bernuansa jahat yang digagas oleh Inggris dan sekutunya.

Inggris menyalahkan Rusia atas upaya peracunan Skripal dan putrinya yang terjadi pada 4 Maret 2018 di Salisbury. Sejumlah negara termasuk di antaranya Inggris, Amerika Serikat, dan NATO pun mengusir sejumlah diplomat Rusia sebagai wujud solidaritas mereka terhadap Inggris.

Moskow telah membantah keras keterlibatannya dalam upaya pembunuhan Skripal dan Yulia, putrinya. Pengusiran para diplomatnya pun ditanggapi dengan langkah yang sama oleh Rusia. Situasi ini membawa ingatan banyak orang ke era Perang Dingin.

Dalam pertemuannya dengan DK PBB, Nebenzia mengatakan, “dengan tingkat probabilitas tinggi” Rusia mengasumsikan bahwa dinas intelijen negara lain kemungkinan bertanggung jawab atas peracunan Skripal dan Yulia.

“Semuanya menegaskan ini adalah kampanye terkoordinasi, terencana dengan baik, yang dimaksudkan untuk mendiskreditkan dan bahkan mendelegitimasi Rusia,” tambahnya.

Membalas pernyataan Dubes Nebenzia tersebut, Duta Besar Inggris, Karen Pierce menyatakan bahwa Rusia datang dengan 24 teori tentang dalang di balik peracunan Skripal, sementara pihaknya hanya satu: Rusia adalah dalang utama.

Baca Juga:  Duterte Minta Pasukan Amerika Pergi Dari Filipina

Menurut Pierce, beberapa teori Rusia adalah menyalahkan teroris dan menuding Inggris ingin mengalihkan perhatian dari isu Brexit.

Nebenzia sendiri menolak menyebutkan dinas intelijen yang dicurigai Rusia. Namun, ia menegaskan tujuan pelaku adalah untuk menuduh Moskow menggunakan “senjata mengerikan, tidak manusiawi” yang melanggar Konvensi Senjata Kimia dan mempertanyakan peran Rusia, tidak hanya dalam upaya mencari solusi di Suriah, tapi juga di tempat lain.

“Kami telah memberi tahu rekan-rekan kami diplomat Inggris bahwa ‘Anda telah bermain api dan Anda akan menyesalinya’,” ungkap Nebenzia.


Pada Kamis pagi, kepolisian Inggris merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa “kekuatan Yulia semakin meningkat setiap hari” dan perempuan itu mengucapkan terima kasih kepada mereka yang membantunya pada saat ia dan ayahnya diracun.


Rumah sakit di kota Salisbury, Inggris, menegaskan bahwa kesehatan Yulia telah membaik, sementara ayahnya yang berusia 66 tahun tetap dalam kondisi kritis. (liputan6)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan