Rusia Kirim Pasukan Spetsnaz Memburu Kelompok Penyerang Drone di Suriah

Serangan puluhan Drone bersenkata mortir ke Pangkalan militer Rusia di Tartus dan Khmeimim di Suriah mengundah kemarahan pejabat militer di Moskow. Aksi tersebut selain merugikan materiil yang cukup banyak juga dianggap mencoreng pernyataan Suriah yang sebelumnya telah mengklaim susah mengahbisi ISIS dan kelompok pemberontak.

Dilansir oleh kantor berita CNBC (13/1), Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah berhasil melacak dan menghabisi kelompok militan yang bertanggungjawab atas serangan drone tersebut. Para ahli radio elektronik militer Rusia berhasil menganalisa dan melacak balik asal-usul drone tersebut melalui koordinat terbang yang sudah dilewati.

Berdasarkan informasi tersebut, intelijen militer Rusia dan Suriah bekerjasama melakukan pengintaian, dan setelah dipastikan memang ada pergerakan mencurigakan, akhirnya Spetsnaz dikirimkan untuk melakukan operasi pembersihan ke sebuah rumah yang diduga menjadi markas para militan.

Operasi tersebut dinyatakan berhasil setelah para militan ditewaskan dan sejumlah drone serupa dengan yang dipakai menyerang Khmeimim berikut dengan bomnya berhasil disita, setelah rumah sarang militan tersebut dihujani dengan munisi pintar yang meledak dengan akurat.


Rusia menambahkan informasi mengenai bahan peledak yang digunakan untuk bahan bom drone, dengan menyatakan bahan peledak plastik PETN, yang lebih besar daya ledaknya dari RDX, telah digunakan dalam operasi serangan ke Khmeimim. PETN sendiri, masih menurut pihak Rusia, banyak diproduksi oleh perusahaan kimia di Ukraina.
Presiden Putin sendiri menyatakan bahwa serangan drone tersebut memiliki maksud yang lebih besar untuk menghancurkan perjanjian yang sudah dibuat mengenai masa depan Suriah. “Ada sejumlah provokator, namun bukan Turki. Kami tahu siapa mereka, siapa yang mendanai, dan siapa dalangnya.”

Baca Juga:  ISIS Rebut 2 Tank Leopard Milik AD Turki

“Serangan tersebut dipersiapkan dengan baik. Kami tahu kapan dan dimana drone tersebut diserahkan kepada para militan, dan berapa banyak jumlahnya. Pesawat terbang tanpa awak itu disamarkan saya ingin tekankan itu kelihatan seperti buatan kasar. Namun jelas bahwa ada peralatan canggih yang digunakan.” Ujar Presiden Putin di depan media.

Putin menegaskan bahwa Rusia akan tetap bekerjasama dengan Iran, Turki, dan Suriah mengenai masa depan negara yang masih berupaya memerangi militan garis keras tersebut. (Aryo Nugroho/UC NEws via TSM)

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan