Rusia Pamerkan 13 Drone Yang Menyerang Pangkalan Militernya

Serangan Drone pada pangkalan miliger Rusia di Suriah kembali terkuak. Setelah Kementerian Pertahanan Rusia merilis foto-foto drone yang menyerang pangkalan militer Rusia di Khmeimim dan Tartus, pada 8 Januari 2018.

Drone-drone yang menyerang pangkalan Rusia di Suriah yang berhasil dilumpuhkan berjumlah itu diserang 13 drone, sepuluh drone menyerang pangkalan udara Khmeimim dan tiga menyerang pangkalan laut Tartus, pada 6 Januari 2018.

Koran Krasnaya Zvezda menulis bahwa drone-drone itu terbang dari daerah di barat daya zona de-eskalasi Idlib di Suriah, yang sampai sekarang masih dikuasai pemberontak.  Sebanyak tujuh drone dihancurkan oleh sistem pertahanan Pantsir-S, tiga hancur setelah jatuh di tanah, dan tiga lainnya berhasil dikuasai Rusia.


Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Rusia memperlihatkan bahwa drone-drone itu terbuat dari papan dan kayu lapis dengan kabel yang dibungkus isolasi dan polietilen hijau. Rusia menyebutkan bahwa teknologi drone itu berasal dari negara maju.
Rusia juga merilis bom-bom yang dibawa drone penyerang. Situs sputniknews menulis bahwa analisa teknis menunjukan milisi mampu menyerang dari jarak sekitar 100 kilometer. Serangan itu menandai bahwa para milisi sudah bisa menggunakan teknologi panduan GPS yang maju.
Pangkalan Udara Khmeimim di Latakia digunakan Rusia sebagai basis penyerangan terhadap ISIS di Suriah, sejak September 2015. Pemakaian ini tertuang pada perjanjian antara Suriah dan Rusia yang ditandatangi pada Agustus 2015. Rusia menjadikan Khmeimim sebagai pangkalan tetap sejak akhir 2017.

Baca Juga:  Obama Usir Diplomat Rusia, Puti  Undang Diplomat Amerika Pesta Tahun Baru di Kremlin

Tartus sudah menjadi pangkalan Angkatan Laut Uni Soviet sejak 1971. Setelah Uni Soviet pecah, Tartus digunakan oleh Rusia. Menurut kesepakatan, Rusia dapat menempatkan maksimal sebelas kapal perang, termasuk kapal tempur bertenaga nuklir di Tartus. Angkatan Laut Rusia menjadikan Tartus sebagai basis penyerangan terhadap ISIS di Suriah. (TSM/Mahanizar Djohan)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan