Rusia Sudah di Ujung Jalan, Jerman Buru-Buru Upgrade Tank Leopard 2

Aneksasi Krimea oleh Rusia serta operasi intelijen Rusia di Ukraina membuat negara-negara NATO merasa jeri dengan manuver politik dan militer Rusia. Sesuai dengan kesepakatan NATO Summit 2017, negara-negara anggotanya sepakat untuk menaikkan anggaran militer agar kesiapan meningkat. Ini sebagai langkah antisipasi untuk membendung ambisi Rusia.

Salah satu perwujudan dari peningkatan kemampuan tersebut adalah kontrak yang dibayarkan Jerman kepada perusahaan KMW (Krauss-Maffei-Wegmann) untuk memodifikasi 104 Leopard 2A4 ke standar Leopard 2A7V. Seperti diketahui, ada dua kontraktor besar untuk Leopard 2 yakni KMW dan Rheinmetall, masing-masing menawarkan varian upgradenya sendiri.

Kontrak yang ditandatangani pada Mei 2017 tersebut terhitung besar, senilai 760 juta Euro untuk 100 Leopard 2A7V dan 32 sasis baru yang bisa dimodifikasi menjadi kendaraan pendukung seperti varian Buffel atau ARV. Leopard 2A7V pertama diharapkan bisa diterima mulai 2019, dan akan selesai pada 2023 sehingga jumlah total tank Leopard 2 mulai varian 2A5, 2A6, sampai 2A7V akan berjumlah 328 unit.

Leopard 2A7V sendiri adalah proyek yang awalnya didanai secara pribadi oleh pabrikan KMW, dengan V untuk Verbessert yang artinya peningkatan kemampuan. Leopard 2A7V pertama kali ditampilkan pada pameran bergengsi Eurosatory 2016.

Leopard 2A4 yang akan dimodifikasi menjadi Leopard 2A7V akan menerima sejumlah fitur baru, mulai dari kanon standar Rheinmetall 120mm L55 yang lebih panjang sehingga bisa mengadopsi peluru APFSDS anti tank terbaru tipe DM63 yang trengginas untuk menjebol tank-tank terbaru Rusia.

Baca Juga:  Pesawat Tempur di Lanud Roesmin Nurjadin Butuh Senjata Modern

Leopard 2A7V juga akan menerima paket proteksi baru dengan kulit keramik komposit untuk hull dan kubahnya sendiri, plus ditambah jaring kamuflase SAAB Barracuda yang bisa menurunkan emisi panas dan infra merah sehingga lebih sukar dideteksi lawan. Perut Leopard 2A7V juga akan ditambah pelat baja tambahan untuk membuatnya tahan ledakan ranjau.

Sementara untuk mengindera sasaran, komandan dan juru tembak tidak lagi menggunakan EMES dan Peri-17, digantikan dengan sistem optik Attica yang memiliki fitur kamera termal yang distabilisasi. Attica milik komandan memiliki fitur panoramik yang bisa berputar. Sementara pengemudi akan menerima sistem Spectus yang membantu mengemudi dalam gelap malam. Seluruh awak kini akan lebih nyaman dengan penambahan sistem pendingin udara yang kompresornya dipasang di belakang bustle penyimpan amunisi.


Terakhir, sektor catu daya dibenahi dengan penggantian APU (Auxiliary Power Unit) berdaya 20 kilowatt yang bisa mengoperasikan kubah lebih lama tanpa dukungan mesin utama, sehingga Leopard 2AV juga akan makin senyap. Sayangnya, tidak ada pembaruan di sektor dapur pacu, padahal bobot Leopard 2AV dan segala peningkatannya menambah 15 persen bobot total tank ini.


Bagi Jerman, pembaruan atas Leopard 2A7V memang seperti sudah menjadi keharusan, karena teknologinya relatif tertinggal. Namun bagi Indonesia, hal ini adalah kabar buruk karena artinya tidak ada lagi Leopard 2A4 yang tersisa untuk dibeli TNI AD.

Baca Juga:  TNI Kaji Ulang Kerjasama Setelah Dirut PT PAL Ditangkap KPK

Sumber : c.uctalks.ucweb.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan