Rusia Tingkatkan Sistem Senjata dan Fasilitas di Pangkalan Laut Tartus Suriah

Para awak Kapal Cruiser Rusia bertenaga nuklir Pyotr Veliky di pelabuhan Tartus Suriah. © Grigory Sisoev / Sputnik

Militer Rusia berencana memperluas fungsi gudang logistiknya di Suriah menjadi pangkalan laut permanen skala penuh. Fasilitas Rusia di Pelabuhan Tartus telah lama digunakan untuk pemasokan logistik ke kapal perang Rusia selama misi Laut Tengah, demikian dikabarkan rt.com.

“Kami akan memiliki basis Angkatan Laut permanen di Tartus. Kami telah menyiapkan dokumen, yang sekarang sedang dikaji oleh instansi pemerintah lainnya. Dokumen-dokumen yang cukup banyak siap, jadi kami berharap untuk menyerahkan mereka kepada Anda untuk ratifikasi segera, ” kata Jenderal Nikolay Pankov, wakil menteri pertahanan yang bertanggung jawab untuk komunikasi dengan bagian lain di pemerintah Rusia.

Fasilitas Rusia di Tartus telah berdiri sejak 1977. Setelah runtuhnya Uni Soviet, fasilitas tersebut digunakan untuk memasok logistik dan memperbaiki kapal perang Rusia yang ditempatkan untuk misi di Laut Tengah, tapi tidak digunakan sebagai pangkalan permanen.


“Pangkalan ini nantinya tidak hanya fasilitas docking saja, tetapi juga markas komando dan kontrol, dilengkapi juga sistem pertahanan udara. Sebuah pangkalan angkatan laut harus mampu untuk mempertahankan diri dari semua ancaman, “katanya. “dan Tentu saja akan memiliki kemampuan pertahanan anti-kapal selam.”

Minggu lalu, Rusia memastikan pengiriman sistem rudal canggih penangkal serangan udara ke Tartus untuk melindungi fasilitas pelabuhan, serta merapatkan kapal perang dari ancaman serangan udara dan serangan rudal.

Pengiriman tersebut terjadi di tengah pemberitaan media yang menyebutkan bahwa Pentagon merencanakan serangan rudal kapal besar-besaran terhadap lapangan udara Suriah untuk menggempur kapabilitas udara Damaskus.

AS menuding Suriah dan Rusia melakukan kejahatan perang di Suriah saat menyerang pasukan oposisi di timur Aleppo. Menanggapi hal tersebut, Rusia menyatakan operasi itu dilakukan menyusul kegagalan AS dalam menepati janjinya untuk memisahkan kelompok pemberontak dari kelompok teroris di Aleppo, dan bahwa Washington menimpakan kesalahan pada Rusia untuk mengalihkan perhatian atas kegagalannya. (sumber: rt.com)

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan