Saab Bantu Pengembangan Radar AESA untuk Pesawat Tempur KF-X

Proyek pesawat tempur KF-X dan IF-X mendapat suntikan teknologi dari perusahaan SAAB, perusahaan asal Swedia tersebut bersedia untuk mendukung pengembangan algoritma dan evaluasi radar AESA untuk jet tempur KF-X.
Untuk pengembangan radar ini dipimpin oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan (Agency for Defense Development – ADD), Saab akan bekerja sama dengan ADD dan mitra kontraknya LIG Nex1. Nilai order tersebut adalah MSEK 125 (US $ 25 juta).

Republik Korea memiliki ambisi jangka panjang untuk mengembangkan pesawat tempur domestik, termasuk peralatan avionik menyangkut pesawat tersebut seperti radar AESA. Bagi Saab, kontrak saat ini merupakan tonggak penting, dan menunjukkan bahwa Saab adalah mitra penting dalam jangka panjang bagi otoritas dan industri Republik Korea.

“Kami bangga menjadi bagian dari program pengembangan radar AESA. Hal ini semakin membuktikan posisi kami sebagai penyedia dan mitra terkemuka untuk mengembangkan teknologi pesawat tempur dan sub-sistem terbaru. ” kata Anders Carp, kepala bidang bisnis surveillance Saab.


“Salah satu tujuan kami adalah bermitra dengan industri dan pemerintah Republik Korea untuk mendukung pengembangan pesawat tempur domestik”.

LIG Nex1 Co. Ltd. berbasis di Seoul dan mengembangkan dan memproduksi berbagai macam sistem elektronik presisi tinggi.


Seoul sedang mengembangkan jet tempur buatan lokal, yang disebut sebagai KF-X, dengan dukungan dari Lockheed Martin namun pemerintah AS melarang pemanfaatan empat teknologi penting termasuk radar AESA. AAD kemudian bertekad untuk mengembangkan teknologinya sendiri.

Baca Juga:  Kapal Selam Korea Utara Diduga Sudah Membawa Rudal Nuklir

Korea Selatan telah menggandeng Indonesia sebagai mitra dalam program jet tempur KF-X dimana Indonesia mendanai sebagian program dengan imbalan hak untuk memproduksi sejumlah pesawat terbang tersebut. (defenseworld.net/TSM Angga Saja)

1 Komentar

  1. Jika Indonesia membeli 2 skuadron Griphen sebagai calon pengganti pesawat Hawk 100/200 di skuadron 1 dan 12 …… maka kerjasama untuk proyek IFX sepertinya akan mendapat angin segar untuk pengembangan sumberdaya dan kapasitas tenaga ahli dari Indonesia.

Tinggalkan Balasan