Saat 3 Jet Tempur Hawk TNI Ditahan Thailand Karena Tekanan AS

Dalam membeli Alutsista canggih seperti pesawat tempur bukan perkara mudah. Harus juga ditimbang aspek politisnya. Jangan sampai nanti tiba-tiba negara penjual memutuskan hubungan atau menjatuhkan embargo.

Jika sudah seperti itu tentu Indonesia sendiri yang rugi. TNI AU pernah merasakan bagaimana kekuatan jet tempur mereka sangat terganggu karena embargo. Bahkan ada pesawat yang sudah dibeli tapi ditahan tak boleh dikirim ke Indonesia.

Saat itu Indonesia baru saja membeli 32 unit pesawat tempur Hawk 109/209 dari British Aerospace (BAE). Pesawat itu secara bertahap diterbangkan dari Inggris ke Indonesia.

Pada periode 1990-an, Indonesia masih diembargo oleh Amerika Serikat terkait kasus di Timor – Timur. Karena sebagian komponen pesawat Hawk ini masih dipasok oleh perusahaan AS. Sesuai aturan di Amerika Serikat, sekecil apa pun komponen alutsista buatan AS harus sepengetahuan Pentagon jika berpindah tangan. Maka walau pesawat Hawk diproduksi Inggris, AS merasa masih punya hak untuk ikut mengembargo.

AS pun menggunakan pengaruhnya untuk menekan Inggris. Tiga pesawat Hawk dari London yang terbang menuju Indonesia harus berbalik arah menuju Bangkok, Thailand. Sebenarnya pesawat itu sudah mencapai Singapura dan sebentar lagi masuk wilayah udara Indonesia.


Hal ini dikisahkan dalam buku Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi, Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970 yang diterbitkan Kata Hasta Pustaka tahun 2012.

Baca Juga:  Mengenang Aksi Heroik Prajurit Kopaska Mengusir Kapal Perang Malaysia

Di Bangkok, tiga pesawat ini ditahan dan tidak boleh dikirimkan ke Indonesia. Situasi ini sangat buruk untuk Indonesia. Sudah beli mahal-mahal, malah kena embargo dan ditahan.

Maka pendekatan diplomasi dan intelijen dilakukan untuk melobi pejabat Thailand. Dua perwira tinggi TNI dikirim untuk membebaskan tiga pesawat tempur itu. Dir B Bais ABRI Brigjen Harianto Imam Santosa dan Aspam Kasau Marsda Tjutju Djuanda dikirim ke negeri Gajah Putih tersebut.

Pihak Thailand tak mudah melepaskan tiga pesawat itu karena ditekan Amerika Serikat. Apalagi pemerintah AS sudah mengirim permintaan resmi melalui nota diplomatik. Thailand adalah sekutu AS di Asia Tenggara selain Filipina.

Namun di sisi lain, pejabat militer Thailand juga punya hubungan pribadi yang sangat baik dengan para petinggi TNI. Akhirnya terciptalah kesepakatan unik yang cerdik yang menguntungkan Indonesia dan Thailand.

Suatu hari, ketiga pesawat jet tempur tersebut diberi “zin khusus” untuk pemanasan di udara. Hal ini wajar karena pesawat sudah lama ditahan di pangkalan udara Thailand. Izin yang diberikan khusus untuk terbang di sekitar Laut China Selatan.

Pesawat pun disiapkan. Begitu izin diberikan, wuuuuzzzzz!! Pesawat langsung mengangkasa.


Namun ketiga pesawat itu tak menuju Laut China Selatan. Mereka malah menuju Pangkalan Udara Supadio di Pontianak. Ketiganya mendarat dengan selamat di wilayah Indonesia.

Pihak Thailand “pura-pura” mengajukan protes atas pelanggaran tersebut. Namun pemerintah Indonesia juga “pura-pura” tak terkait dengan pelarian pesawat Hawk itu.

Baca Juga:  Dua Sukhoi TNI AU, Usir Pesawat India Yang Terobos Wilayah NKRI

Lucunya lagi militer AS juga “pura-pura tidak tahu” atas kejadian itu. Rupanya sebenarnya mereka bersimpati pada Indonesia. Namun pihak AS terpaksa menjalankan tekanan politik dari pihak Kementerian Luar Negeri dan Kongres.

Kisah penyelamatan berakhir lucu dan unik ini berakhir. Hawk-Hawk dari Inggris ini masih memperkuat TNI AU sampai sekarang. Tentu kita tak berharap ada kasus serupa di masa depan. (merdeka.com)

1 Komentar

Tinggalkan Balasan