Sejarah Konspirasi Britania, Freemason dan Jerman dalam Revolusi Rusia 1917

Ada banyak teori konspirasi di balik Revolusi Kaum Bolshevik di Rusia yang mengakhiri kekuasaan Dinasti Tsar Rusia pada 1917 dan memulainya sistem pemerintahan Komunis Sosialis yang dipimpin Lenin. 

Teori pertama adalah, revolusi tersebut diprovokasi oleh Tiga Entente, yaitu persekutuan tiga kerajaan antara Tsar Rusia, Perancis dan Britania untuk melawan aliansi Jerman, Hungaria dan Italia. 

Dalam persekutuan tersebut, Kaisar Tsar Rusia dipercayai oleh pihak Inggris dan Peranxis berusaha membelot ke Jerman. Kedua negara lalu mendorong kaum Bolshevik untuk melakukan revolusi menggulinkan Tsar Rusia.


Teori kedua, dalangnya adalah kaum Freemason.

Organisasi Freemason dianggap memainkan peran penting dalam proses politik Rusia pada awal abad ke-20. Namun begitu, orang-orang yang diduga terlibat konspirasi Masonik untuk menggulingkan kekaisaran menyanggah keterlibatan mereka. Dalam memoar Alexander Kerensky, salah satu tokoh utama kejadian 1917, menyangkal pernyataan bahwa “kejatuhan monarki dan terciptanya Pemerintahan Sementara Rusia (ada kaitannya) dengan Lodge (unit Freemason). Menurutnya, tuduhan tersebut absurd.”

Bagaimana pun juga, meskipun konspirasi masonik mungkin tidak ada, peran politik Freemason dalam revolusi Rusia tidak terbantahkan. Organisasi tersebut berada di Rusia untuk membantu pembangunan progresif di sana, salah satunya melalui reformasi politik. 

Banyak pengikut Freemason yang juga merupakan anggota parlemen Rusia yang beroposisi; tidak hanya politisi partai-partai liberal, tapi juga orang-orang Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Nikolay Chkheidze, anggota parlemen yang sebelum revolusi 1917 menjadi Ketua Deputi Buruh dan Prajurit Petrograd (institusi yang menjadi dasar rezim Soviet), adalah anggota Freemason.

Vladimir Lenin tanpa kumis dan jenggot khasnya. Sumber: Mary Evans/Global Look Press

Teori Ketiga, dalangnya adalah Jerman.

Orang-orang Bolshevik dibiayai oleh Jerman. Teori ini berdasarkan fakta bahwa pada April 1917, pemimpin Bolshevik l, Vladimir Lenin dan kolega-koleganya berangkat ke Jerman dari Saint Peterburg (Petrograd). Mereka mencari suaka atau bentuk dukungan dari Jerman setelah gagal dalam upaya pertama menggulingkan kekaisaran Rusia.

Pemerintahan Sementara Rusia menuduh mereka memiliki hubungan dengan Jerman. Kementerian Hukum Rusia saat itu menduga Lenin direkrut oleh intelijen Jerman dan dibiayai oleh Jerman. Jerman sendiri saat itu sedang berperang dengan Rusia. Menggunakan Lenin adalah taktik licik Jerman untuk menang dalam perang.

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan