Senapan SS-3 Sang Penantang AK-47

Produsen senjata api pelat merah, PT Pindad (Persero), memamerkan salah satu produk keluaran terbarunya di pameran Bekraf Habibie Festival, yakni Senapan Serbu (SS) 3 yang merupakan produk pengembangan dari senapan laras panjang sebelumnya, SS1 dan SS2.

Yuzal Purnama, Engineer Pindad, mengatakan senjata tersebut belum diproduksi massal lantaran baru selesai dikembangkan tahun lalu. Mengadopsi amunisi kaliber 7,62 mm, SS3 ini diharapkan jadi pesaing dari senjata laras panjang sejenis yaitu Kalashnikov atau AK-47.

“Proyeksinya ini memang untuk bisa bersaingan dengan AK-47 dengan kaliber 7,62 mm. Ini turunan dari SS1 dan SS2 di mana senjata ini dikembangkan sendiri dari Pindad, bukan lisensi seperti SS1,” ungkap Yuzal kepada detikFinance di Habibie Festival, Jakarta, Senin (7/8/2017).

Agar bisa bersaing, beberapa fitur ditambahkan pada SS3 seperti lensa teleskop infra red, dan proses penempaan pada larasnya denga metode swaging agar akurasi tembakan bisa lebih akurat.

“Kelebihannya kita tambahkan lensa infra red dan laras yang kita buat dengan metode swaging atau logam yang besar kita buat jadi kecil. Kemudian kompornya juga kita buat bisa bergerak maju mundur, sehingga gerakan penembak bisa lebih fleksibel,” tutur Yuzal.


SS-3 sendiri punya jarak tembak efektif sampai 400 meter (mekanikal), sementara dengan optical jarak tembak bisa mencapai 800 meter. Dengan magazine berisi 30 peluru dan bisa menembakkan hingga 810 peluru dalam satu menit.

Baca Juga:  Kelebihan Tank Leopard 2Ri Dibanding Leopard 2A4 Standar TNI AD

“Tembakkan kecepatan purunya atau yang lebih dikenal dengan ROF (rate of fire) bisa antara 740-810 per menit. Itu bisa disetting jadi senjata otomatis dan semi otomatis sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Menurutnya, SS3 ini dikembangkan untuk kebutuhan pasukan infantri dalam pertempuran jarak jauh lantaran daya jangkau tembaknya yang mencapai 800 meter.


“Sangat cocok untuk kebutuhan perang dengan jarak dengan musuh yang jauh. Kalau untuk penyergapan kurang cocok karena larasnya agak panjang. Gerakan pasukan agak susah. Sementara belum diproduksi massal karena pembuatan senjata itu tergantung pemesanan. Bisa untuk menggantikan AK-47,” pungkas Yuzal.

sumber : detik.com

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan