Sertifikasi Medium Tank Kerja Sama Indonesia-Turki Akhir Juli Ini

Direktur Teknologi Dan Pengembangan Ade Bagja mengatakan, PT Pindad sudah merampungkan pembuatan purwarupa atau prototype medium tank kedua yang dirancang bersama FNSS Turki. “Kami punya Prototype 1 yang dibangun di Turki, dan itu sedang kami perbaiki, di improve pada Prototype 2. Prototype kedua ini yang akan kita lakukan sertifikasi,” kata Ade Bagja di Bandung, Jumat, 13 Juli 2018.

Ade mengatakan, pada kerjasama pengembangan medium tank Indonesia-Turki akan dibuat 2 purwarupa tank. Satu sudah lama selesai dibangun Pindad-FNSS di Turki, sementara Purwarupa 2 dibuat di Pindad, Bandung. “Yang dibuat di Turki itu sudah kami coba di sana, dan sebagainya; ada perbaikan, diterapkan di Prototype 2. Yang kan di sertifikasi ini, yang sudah ada proses ‘improvement’-nya,” kata dia.

Ade mengatakan, medium tank Purwarupa 2 ini bahkan sudah menjalani “mine blast test”, atau pengujian ketahanannya terhadap ledakan ranjau. Medium tank Purwarupa 2 tersebut menjalani pengujian menghadapi ledakan 8 kilogram TNT di bawah “hull” tank tersebut, serta 10 kilogram TNT yang ditanam di jalur lintasan tank tersebut. “Secara umum berhasil, Alhamdulillah. Tapi untuk hasil kuantitatifnya belum keluar. Mudah-mudahan hasilnya bagus,” kata dia.

Pengujian terhadap ledakan ranjau itu dijalani medium tank Purwarupa 2 tersebut tanggal 12 Juli 2018 di Lapangan Tembak Pussernarmed, Batujajar, Bandung Barat. “Pengujian standar internasional itu untuk 10 kilogram (TNT) d bawah track, itu besar. Kalau kita lihat filmmya tadi, bayangin, ada material loncat, sampai tanknya ngangkat karena (ledakan) 10 kilogram (TNT) itu besar,” kata Ade.

Baca Juga:  TNI AL Berhasil Bebaskan 39 Nelayan Aceh yang Ditangkap di India


Menurut Ade, jika masih ditemukan kekurangan selepas evaluasi pengujian terhadap simulasi ledakan ranjau, tank akan disempurnakan lagi. “Setelah ini selesai, kami akan lanjutkan dengan proses sertifikasi,” kata dia.

Ade mengatakan, dalam fase sertifikasi tersebut akan dilakuan oleh Dislitbang TNI Angkatan Darat. “Sertifikasi dalam ketentuan yang ada di Indonesia, yang melakukannya adalah Dislitbang AD. Jadi seakan-akan kendaraan ktia berikan pada Dislitbang AD, mereka yang akan melakukan proses sertifikasi. Kami gak boleh nyentuh lagi,” kata dia.

Rancangan final pasca sertifikasi ini yang akan menjalani produksi masal. “Untuk tahap awal, hasil yang sekarang, kami mau produksi dulu,” kata Ade.

Ade mengatakan, proses sertifikasi tersebut ditargetkan sudah bisa dikerjakan akhir bulan Juli 2018 ini, atau paling telat awal Agustus 2018. “Sertifikasi itu untuk mobilitas daya gerak, dan juga daya tembak atau daya gempur. Untuk mobilitas itu ada endurance, seminggu lebih dijalankan naik turun atas bawah, muter-muter. Minimal ada waktu 3-4 hari tidak boleh dimatikan mesinnya, jalan terus,” kata dia.

Tank tersebut juga akan menjalani pengujian daya tembak atau blast test, sebagai bagian dari sertifikasi tersebut.

Varian APC dan Komando


Ade mengatakan, medium tank pengembangan Indonesia-Turki itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan TNI. “Apa sih yang diperlukan oleh user ktia. User kita ingin sebuah kendaraan tempur yang punya kemampuan menggempur, untuk menghancurkan lawan, tetapi kalau sampai dia dalam keadaan serangan, dia aman. Aman itu artinya, untuk personil dan materil di dalamnya. Dan itu yang coba kami penuhi. Berbagai macam spesifikasi terkait dengan kemampuan gempur, gerak, bertahan, survival, ability-nya, itu yang kita penuhi,” kata dia.

Baca Juga:  KASAU: Helikopter AW-101 Tetap Dibeli

Menurut Ade, kendati kelak sudah masuk fase produksi, tank tersebut juga akan masih menjalani serangkaian pengembangan mengikuti kebutuhan TNI. Salah satu pengembangan yang disiapkan adalah pengembangan versi APC (angkut personil), hingga ambulan. “Medium tank itu ada yang (tipe) kanon, tapi ada yang bisa dibuat untuk angkut personil. Karena yang dibutuhkan itu akan 1 kompi, itu di dalamnya ada tank penggempur, komando, administrasi, angkut personil, dan itu variannya banyak,” kata dia.

Ade mengatakan, Medium Tank ini juga dirancang memiliki kemampuan menyeberang di perairan kendati bukan tipe Amphibious seperti yang dipergunakan oleh pasukan Marinir. “Nanti tergantung kebutuhannya, bisa saja. Tapi kalau perlunya APC, kita akan perbesar kapasitasnya, nanti kita punya tipe Kanon dengan 10 penumpang, nanti kita pindah ke 16 penumpang,” kata dia.

Ade mengatakan, proyek pengembangan Medium Tank tersebut yang menjadi sasaran bukan kemampuan produksi semata, tapi justru penguasaan teknologinya. “Yang akan kami deliver ke Kementerian Pertahanan itu bukan medium tank-nya tapi penguasaan teknologi kendaraan tempur,” kata dia.

Sumber: TSM/ tempo.co

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan