Setelah Tergelincir Pesawat F-16B Masih Bisa Terbang Kembali?

Pesawat tempur F-16B dengan nomer TS-1603 mengalami kecelakaan karena adanya kegagalan fungsi rem saat mendarat di Lanud Roesmin Nurjadi, Pekanbaru, pada Selasa (13/03/2017). Tak ada korban jiwa, pilot dan kopilot selamat.

Jet tempur ini adalah bagian dari proyek pembelian Bima Sena I tahun 1990 dengan total pengadaan 12 unit F-16 A/B dengan nilai per unit pesawat mencapai US$32 juta.

Salah satu perstasi menteren pesawat ini, ikut mengusir black pesawat tempur F/A-18 Hornet milik AU Amerika Serikat di atas Bawean tahun 2003.


Mengenai kondisi pesawat, Harian Kompas (15/3/2017) menyimpulkan bahwa F-16 TS-1603 mengalami total lost dan tidak bisa digunakan lagi.


Bertolak belakang dengan informasi dari Dinas Penerangan TNI AU lewat Direct Message di akun Twitter @_TNIAU yang enjelaskan bahwa sampai saat ini tengah dilakukan pemeriksaan pada airframe, fuselage, dan komponen lainnya untuk memastikan tingkat kerusakan, sehingga nantinya baru dapat dipastikan apakah F-16 TS-1603 masih bisa diperbaiki dan diterbangkan lagi atau tidak.

Adapun teknisi TNI AU di Lanud Roesmin Nurjadi Pekanbaru menyimpulkan bahwa pesawat masih bisa digunakan. Optimis!.

Kondisi F-16B sesaat setelah insiden. Foto: twitter

Berbeda dengan F-16 C/D Block 52ID yang menggunakan mainframe Block 25 yang tidak bisa diupgrade lagi, F-16 A/B mengusung Block 15 OCU (Optional Capability Upgrade) yang bisa diupgrade lagi.

Dengan label OCU, F-16 A/B Block 15 OCU berbeda dengan versi awal dari F-16 produksi awal. F-16 A/B Block 15 OCU dibuat dengan memenuhi standar Operational Capability Upgrade yang mencakup mesin F100-PW-220 turbofans dengan kontrol digital, kemampuan menembakkan AGM-65, AMRAAM, dan AGM-119 Penguin, serta pembaruan pada kokpit, komputer, dan jalur data. Berat maksimum lepas landasnya bertambah menjadi 17.000 kg. 

Baca Juga:  Indonesia Sedang Mengkaji Panser Buatan Rusia, Turki dan Korea Untuk Marinir

Ikut dalam paket OCU juga terdiri dari kelengkapan radar Westinghouse AN/APG-66 Pulse-doppler, mesin Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan, dengan 14.670 lbf (64.9 kN), 23.830 lbf (106,0 kN) dengan afterburner. Kedatangan F-16 A/B memperkenalkan TNI AU pada adopsi jet tempur fly by wire yang pertama kali dalam sejarah TNI AU serta  punya kapabilitas meluncurkan rudal AGM-65G Maverick dan rudal udara ke udara AIM-9P4 Sidewinder yang mampu menguber sasaran dari segala arah.

Kondisi F-16B setelah dievakuasi ke hanggar. Foto: Dispen TNI AU

Dengan segala kecanggihanya, masyarakat berharap agar si F-16B bisa terbang lagi menjaga NKRI.

2 Komentar

  1. Kenapa tni au ngak belajar dari pengalaman yg lalu lalu, kejadian sejenis pernah terjadi d halim, rem blong, apakah pesawat nya ngak d kasih rem parasut yg biasa ada pd pesawat tempur, ..gara gara rem blong rugi milyaran, msh untung ngak minta korban jiwa, halllo tni au..sudah bangun..?

Tinggalkan Balasan