Skandal Toshiba-Kongsberg, Jual Teknologi Kapal Selam Ke Uni Soviet

Pada era 1980an, terjadi sebuah skandal dimana perusahaan Jepang Toshiba dan perusahaan Norwegia Kongsberg menjual mesin-mesin teknologi tinggi kepada Uni Soviet. Penjualan ini melanggar Coordinating Committee for Multilateral Export Controls (Cocom) yang melarang ekspor teknologi canggih ke negara-negara blok komunis. Setelah Uni Soviet mendapatkan teknologi ini, mereka mampu membuat kapal selam dengan propeller yang memiliki tingkat kebisingan yang lebih rendah.

Skandal ini bermula ketika John Anthony Walker Jr., seorang anggota US Navy yang menjadi mata-mata untuk Soviet, memberikan informasi kepada Soviet bahwa kapal selam mereka dapat dilacak secara akurat oleh US Navy karena tingkat kebisingan propeller yang kelewat tinggi. Soviet pun bergerak untuk mencari alat-alat mesin di Barat, yang mampu membantu mereka memproduksi propeller dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah.

Di awal 1980, organisasi perdagangan asing Soviet Tekmashimport mengontak perusahaan perdagangan Jepang Wako Koeki, yang memiliki kantor di Moskow. Wako Koeki kemudian melakukan pendekatan ke Toshiba Machine, yang kemudian setuju untuk menyediakan peralatan mesin teknologi tinggi yang diminta. Perusahaan-perusahaan Jepang tersebut juga meminta bantuan dari perusahaan Norwegia Kongsberg Trade. Kongsberg setuju untuk menyediakan peralatan komputer untuk menjalankan mesin, serta desain propeller dan software produksi. Untuk mencegah munculnya kecurigaan, Toshiba menggunakan broker ekspor standar C. Itoh & Company.

Pada bulan April 1981, pihak-pihak yang terlibat melakukan negosiasi untuk lima kontrak terpisah.

Kontrak pertama adalah antara Tekmashimport dan C. Itoh & Company untuk penyediaan empat mesin milling serta servis dan spare part untuk lima tahun. Mesin yang dimaksud adalah mesin milling propeller terkomputerisasi MBP-110 dengan nine-axis. Mesin seharga $17.4 juta dengan tinggi dua lantai dan berat 220 ton ini mampu membentuk propeller dengan ukuran 30 kaki. Keterangan yang diberikan kepada MITI (Ministry of International Trade and Industry) Jepang adalah bahwa mesin milling yang dijual adalah TDP 70/110 two-axis yang tidak melanggar aturan Cocom. Mesin milling ini kemudian dipasang di Baltic shipyard, Leningrad.

Baca Juga:  Jan Cox Seniman Belanda Yang Namanya Abadi Di Jawa

Kontrak kedua adalah antara Kongsberg Trade dan Tekmashimport untuk pembelian komputer NC-2000 Numeric Controller serta software untuk mendesain dan memproduksi propeller, dengan persetujuan servis tambahan. Keterangan yang diberikan perwakilan Kongsberg pada Norwegian Trade Ministry adalah bahwa komputer tersebut akan digunakan untuk mesin-mesin sipil yang lebih sederhana.

Kontrak ketiga adalah antara Kongsberg Trade dan Toshiba Machine, dimana Kongsberg setuju untuk mengirim NC-2000 ke Toshiba agar dapat dipasang di MBP-110, sebelum C. Itoh & Company mengirim mesin tersebut ke Soviet. Kontrak keempat dan kelima adalah antara Wako Koeki dan Kongsberg Trade serta Toshiba, dimana Wako Koeki mendapat bayaran karena sudah membantu mengatur rencana yang dijalankan.

Pada bulan April 1983, Toshiba kembali melakukan pengiriman teknologi tinggi kepada Soviet. Kali ini, Toshiba mengirim empat mesin milling propeller terkomputerisasi raksasa MF Series dengan five-axis seharga $10.7 juta. Mesin MF series disamarkan sebagai mesin pengeboran, dan operasional di Leningrad pada tahun 1984.

Penjualan mesin milling ini memungkinkan Soviet membuat propeller kapal selam yang lebih senyap dengan reliabilitas yang terjamin dan angka produksi yang besar. Ada tiga unsur yang diberikan oleh mesin serta komputer dari Jepang dan Norwegia:

(1) Tingkat akurasi 0.01 mm

(2) Fleksibilitas, dengan proses machining 5-axis sekaligus dalam 2 bilah yang berbeda

(3) Otomatisasi tingkat tinggi

Baca Juga:  Perang Jawa I : Perang Saudara Yang Mengubah Peta Sejarah Nusantara

Dengan unsur-unsur tadi, Soviet sudah mampu memproduksi propeller dengan desain skew-back yang memiliki beberapa bilah identik. Propeller skew-back mampu mengurangi suara kavitasi frekuensi tinggi, maupun kebisingan blade rate frekuensi rendah. Alhasil pada pertengahan 1980an, kapal selam nuklir Soviet mampu menghindari deteksi SOSUS dan mempersulit usaha pencarian platform ASW taktis US menggunakan sonar pasif. Terlebih lagi karena akurasi mesin dan software manufaktur, propeller kompleks ini dapat diproduksi Soviet dengan rejection rate yang rendah. Tingkat produksi propeller kompleks Soviet pertahun mengalami kenaikan tiga kali lipat.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan aktivitas illegal ini diketahui. Ada yang mengatakan bahwa seorang karyawan Wako Koeki membocorkan informasi kepada Cocom. Ada juga yang menyatakan bahwa DoD menginvestigasi dan menemukan adanya pelanggaran setelah muncul laporan bahwa tingkat kebisingan kapal selam Soviet mendadak menurun.

Sebagai buntut dari skandal ini, presiden dan beberapa eksekutif Toshiba Machine serta dua eksekutif dari Toshiba Corporation mengundurkan diri. Toshiba dikenakan sanksi ekonomi oleh pemerintah Jepang yang membuat perusahaan tersebut hampir bangkrut. Beberapa orang Kongres US menghancurkan sebuah radio Toshiba di depan publik. Kongsberg Vaapenfabrikk di-shut down oleh pemerintah Norwegia, sedangkan C. Itoh & Company dikenakan larangan mengekspor peralatan mesin ke negara komunis selama tiga bulan.

Sumber: FP LightingII-Chan/Hex

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan