Studi Kasus: India Menyerah Kembangkan Jet Tempur Dalam Negeri HAL Tejas

HAL Tejas
Setelah 32 tahun, Proyek pesawat HAL Tejas tak dilanjutkan India. Foto: defence pk

Seandainya proyek pesawat tempur HAL Tejas sukses berlangsung seperti yang direncanakan, maka saat ini Angkatan Udara India tidak akan kekurangan armada tempur. Awalnya HAL Tejas memang ditujukan untuk menggantikan pesawat MiG-21 yang bakal dipensiunkan pada awal dekade tahun 2000.

Apa daya, anggaran keuangan India justru terkuras habis untuk merawat Sukhoi Su-30 MKI. Proyek prestisius tersebut awalnya dianggap lebih realistis daripada mengembangkan HAL Tejas. Su-30 bermesin ganda dengan transfer teknologi 50% dari Rusia, hanya untuk perakitan bukan suku cadangnya.

Di saat bersamaan, kolaborasi Pakistan dan Cina berhasil membuat JF-17 Thunder dengan arah pengembangan yang jelas ke arah pesawat generasi ke-4, JF-17 Thunder block 3.

Proyek HAL Tejas diluncurkan tahun 1980 sedangkan Pakistan meluncurkan proyek JF-17 pada 1990. Meski lebih duluan 10 tahun, tapi Pakistan berhasil menyalip India.

JF-17 Thunder block II foto: airdefence
JF-17 Thunder block II, pesawat yang dikembangkan Pakistan dengan menggandeng China. foto: airliners.net

Sampai saat ini, HAL Tejas hanya berhasil diproduksi 2 unit saja padahal selama 32 tahun pengembangan dan penelitian sudah 15 unit pesawat prototipe Tejas dibuat. 7 dalam bentuk Limited Series Production (LSP), 2 pesawat demo, 3 prototipe , 2 Trainer Prototype and 1 Naval Prototype.

Tahun 2016, pemerintah memutuskan untuk menangguhkan proyek Tejas dan memilih mencari pesawat lain dari luar negeri. Syaratnya, diproduksi di dalam negeri dan transfer teknologi 100%.

Tejas dikembangkan sendiri oleh India tanpa menggandeng kekuatan dari luar negeri. Pada saat bersamaan mereka membeli pesawat dengan filosofi berbeda dengan Tejas, yaitu Sukhoi Su-30MKI. Walhasil tak ada suntikan teknologi ke dalam Tejas, kedua proyek berjalan tanpa searah dan satunya tersesat hingga tak dilanjutkan.

Baca Juga:  Pesawat Tempur Rusia Mirip Apel Busuk di Arsenal India

Pelajaran bagi Indonesia, membeli pesawat tempur dan saat bersamaan sedang mengembangkan pesawat sendiri. Seharusnya ada paket transfer teknologi yang bisa diaplikasikan ke proyek pesawat lokal.

Proyek IFX bersama Korea Selatan belum realistis.
Fakta pertama, dalam proyek tersebut, KAI (PT DI-nya Korea) seperti menyedot para insinyur pesawat Indonesia ke Korea Selatan untuk bekerja mengembangkan kemajuan KAI sebagai perusahaan dan meninggalkan PT-DI dalam kesakitan. Akhir 2016 sudah 70 insinyur PT.DI diambil KAI dan tahun 2021 ditargetkan ada 200 insinyur PTDI yang bekerja di KAI.


Fakta kedua, selain tak punya cukup tenaga ahli hingga harus mengimpor dari Indonesia, KAI Korea juga tak punya cukup teknologi untuk mengembangkan sebuah pesawat tempur generasi ke-4. KAI juga tak memiliki pengalaman mengembangkan pesawat tempur sendiri, selama ini hanya merakit pesawat lisensi dari Amerika Serikat.

Belajar dari Pakistan yang menggandeng China dalam proyek pesawat tempur JF-17 Thunder. Yang saat ini keduanya sedang melangkah ke JF-17 Thunder block 3 yang diprediksi bakal seimbang dengan Sukhoi T-50 PAK-FA sebagai pesawat generasi ke-5.

Untuk mendukung proyek IFX, Indonesia harus membeli pesawat yang terdapat kontrak transfer teknologi di dalamnya.


JF-17 Thunder block III pesawat generasi ke-5. Foto: defence.pk
JF-17 Thunder block III pesawat generasi ke-5. Foto: defence.pk / LEGO2002

sumber rujukan:

4 Komentar

Tinggalkan Balasan