Su-30MKM TUDM Malaysia, Paduan Istimewa Jet Tempur Rusia dengan Avionik Berteknologi Barat

Angkatan Udara Malaysia, TUDM (Tentera Udara Diraja Malaysia) menjadi satu dari sedikit negara yang mengoperasikan format jet tempur ringan dan berat Rusia, MiG-29N dan Su-30MKM sekaligus, padahal secara doktrin dan organisasi TUDM mengikuti pola Barat.

Su-30MKM sendiri menjadi salah satu varian Su-30 yang unik dan menarik. Hal ini karena Su-30MKM (NATO: Flanker-G) memiliki perpaduan antara airframe, mesin, dan senjata buatan Barat dengan avionik buatan Barat, dalam hal ini Perancis. TUDM menerima Su-30MKM pertama pada 2007 setelah kontrak ditandatangani pada 2003.

Malaysia memperoleh keuntungan dari India, yang membuat Rusia membuka arsitektur Su-30 sehingga melahirkan Su-30MKI yang banyak diintegrasikan dengan avionik buatan negeri kari itu. Hal ini membuat Su-30 menjadi platform yang bisa dikawinkan dengan avionik luar. Su-30MKM (Modernizirovannyi Komercheskiy = modernisasi, komersial pesanan Malaysia) memang dikembangkan dari basis Su-30MKI.

Dari segi tampilan luar, Su-30MKM masih mirip dengan Su-30MKI dengan badan, mesin Lyulka AL-31FP yang bisa diputar nosel gas buangnya, dan sistem kendali fly by wire yang serupa. Su-30MKM diawaki oleh dua awak, pilot dan operator sistem senjata. Ragam persenjataan yang dapat dibawa, berupa rudal jarak menengah, sedang, dan jauh serta rudal udara ke permukaan sama dengan varian Su-30 lainnya.


Perbedaan utama Su-30MKM ada pada avionik. Malaysia mencari sistem avionik terbaik buatan Eropa, yang akhirnya ketemu pada produk Thales Perancis. Pemilihan atas produk Thales dilakukan karena pabrikan Sukhoi memang pada awal tahun 2000an sangat dekat dengn Perancis dan banyak mengintegrasikan perangkat elektroniknya pada platform Su-27/30.

Baca Juga:  Setelah Tergelincir Pesawat F-16B Masih Bisa Terbang Kembali?

Nah, varian Su-30MKM sendiri mempertahankan sistem radar dan elektro optik yang sama dengan Su-30MKI. Radar phased array N011M sudah jadi standar, begitu juga sistem optronik pasif IRST (Infra Red Track and Scan) OLS-30 yang mampu mendeteksi sasaran di udara sejauh 90km dari belakang, atau 50km dari depan.


Pilot bisa memilih pembesaran (Field of View) lebar dengan cakupan 20×5 derajat atau sempit dengan lebar 3×3 derajat yang lebih jauh jaraknya. Cakupan sempit digunakan untuk membidikkan rudal BVR (Beyond Visual Range) secara pasif. Sistem laser rangefindernya akurat sampai jarak 3 kilometer untuk sasaran udara dan 5 kilometer untuk sasaran darat.

Perbedaan baru kentara saat melongok ke dalam kokpit Su-30MKM. Jika jet tempur Rusia biasanya didominasi panel biru telur asin, pada Su-30MKM desain kokpit mengikuti standar desain dan alur Barat, dan panelnya berwarna abu-abu.

Sistem HUD (Head Up Display) untuk pilot dan operator persenjataan menggunakan Thales CTH3022 wide angle holographic HUD yang lebar, dan pilot dimanjakan berkat keberadaan tiga MFD (Multi Function Display) berlayar lebar yang bisa menampilkan beragam informasi. WSO bahkan memiliki sampai empat MFD di kursi belakang. Nyaris tidak ada panel analog yang tersisa.

Sistem IFF (Identification Friend or Foe) yang juga dibuat Thales. Sistem pod pencari sasaran dan pengarah rudal menggunakan, lagi-lagi, produk Thales yaitu Damocles targeting & NAVLIR pod. Untuk sistem komputer pada Su-30MKM tetap menggunakan sistem S101 buatan Rusia.

Baca Juga:  Uji Coba Rudal Grom TNI di Pantai Sekerat Kalimantan Timur

Su-30MKM sendiri memiliki kekhasan dengan fokus pada sistem pertahanan yang cukup lengkap daftarnya, meliputi Saab Avitronics MAW300 Missile Warning Sensor dan LWS350 Laser Warning Sensor untuk mendeteksi sistem laser pemandu rudal anti pesawat yang digunakan oleh sistem rudal berpemandu laser.

Sementara untuk mendeteksi rudal dengan pemandu radar ada sistem RWS-50RWR. Sama seperti Su-30MKI, Su-30MKM memiliki kemampuan diisi dan mengisi bahan bakar di udara melalui Cobham 754 buddy refueling pod.

Satu sistem yang terpasang pada Su-30MKM dan tidak ada pada Su-30MKI adalah sistem pod ECM (Electronic Counter Measure) buatan perusahaan Kaluzhsky Rusia yaitu KNIRTI SAP-518 yang dipasang di ujung-ujung sayap Su-30MKM.

Pod ini memungkinkan Su-30MKM untuk melaksanakan misi SEAD (Supression of Enemy Air Defence), dengan mengacak gelombang radar yang bermain di frekuensi G-J. Su-30MKM sempat membuat kehebohan pada saat latihan bareng dengan AL AS, karena menerbangkan Su-30MKM dengan pod KNIRTI SAP-518 terpasang di atas kapal induk AS.

Su-30MKM di TUDM dipangkalkan di Skadron 11 di Gong Kedak, Malaysia Barat yang merupakan salah satu pangkalan militer tertua di Malaysia. Su-30MKM terakhir tercatat dalam berita setelah berhasil menjatuhkan bom berpemandu laser buatan AS, GBU-12 Paveway II seberat 250 kilogram di Sabah, pada akhir 2016. Su-30MKM dapat melakukan ini karena dukungan pod Thales Damocles yang memang didesain bisa mengarahkan laser penyorot sasaran untuk bom-bom pintar buatan Eropa dan AS.

Sumber : c.uctalks.ucweb.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan