Sukhoi Su-57 Beraksi Gempur Posisi Pemberontak, 300 Orang Tewas di Damaskus

Seorang pria terlihat berlari setelah serangan udara di desa terkepung Douma di bagian timur Ghouta di Damaskus, Suriah, Selasa (6/2/2018). | Bassam Khabieh /ANTARAFOTO/REUTERS

Setelah dilaporkan kehilangan ratusan personel pekan kemarin, militer Rusia lancarkan serangan udara besar-besaran atas posisi pasukan pemberontak di Ghouta Timur, wilayah Damaskus selama lima hari berturut-turut. Lebih dari 300 orang tewas dan ratusan orang terluka di pinggiran Damaskus tersebut sejak Minggu (18/2/2018) malam.

Melihat kondisi penduduk sipil yang sangat memprihatinkan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak gencatan senjata segera dilakukan untuk menghentikan serangan udara terbesar dalam tujuh tahun konflik Suriah tersebut.

“Di sana perlu gencatan senjata untuk menghindari pembantaian karena kita akan dinilai oleh sejarah,” kata Utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura dikutip sindonews.com dari kantor berita Reuters, Jumat (23/2/2018).

Para pekerja bantuan dan warga sipil menyatakan helikopter militer Suriah menjatuhkan bom-bom tong, yakni tong oli yang diisi bahan peledak dan pecahan logam. Bom tong tersebut dijatuhkan di pasar dan pusat medis.

Berbagai lembaga pemantau hak asasi manusia (HAM) dan badan bantuan menyatakan pesawat Suriah dan Rusia menyerang rumah sakit dan target sipil lainnya. Adapun di utara, Turki melancarkan serangan terhadap milisi Kurdi. Kini pejuang pro-rezim Suriah dikerahkan membantu misi Kurdi melawan pasukan Turki.

Rusia yang mempunyai hak veto di Dewan Keamanan PBB menyatakan gencatan senjata akan sulit tercapai. Rusia merupakan aliansi Presiden Suriah Bashar al-Assad. Moskow dan Damaskus menyatakan operasi militer di Ghouta penting untuk mengalahkan milisi yang menembakkan mortir di ibu kota.

Baca Juga:  Pesawat Mata-mata U2 Amerika Sibuk Di Langit Korea Utara

“Mereka yang mendukung teroris bertanggung jawab untuk situasi di Ghouta Timur. Bukan Rusia atau Suriah, bukan Iran yang dalam kategori negara itu, karena mereka berperang melawan teroris di Suriah,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.


Militer Rusia diduga mengerahkan pesawat-pesawat jet tempur generasi kelima Su-57 dalam perang Suriah. Dugaan itu muncul setelah sebuah video menunjukkan penampakan dua jet tempur masa depan Rusia itu beroperasi dari Pangkalan Udara Khmeimim.

Jika video itu terkonfirmasi asli, maka Suriah menjadi medan tempur pertama bagi jet tempur Su-57 yang sejatinya belum masuk ke layanan tempur militer Rusia secara resmi.

Video itu diunggah di grup Facebook “Syrian Military Capabilities” dengan tujuan menunjukkan adanya pesawat tempur baru Rusia yang beraksi di langit Suriah.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan