Suriah Siaga Penuh Hadapi Serangan Militer Amerika dan Sekutunya

Perang Besar Armgeddon yang banyak diramalkan kitab suci sepertinya akan benar-benar segera meletus. Amerika beserta sekutunya sedang bersiap menyerang Suriah secara besar-besaran. AS dan Sekutunya ngotot bahwa Pemerintah Suriah di bawah presiden Bashar Al-Assad adalah pihak yang bertanggung jawab atas serangan bom kimia di Douma dua pekan kemarin,

Rezim Bashar al-Assad menyatakan, pasukan militer Suriah saat ini berada dalam posisi “siaga penuh” menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancamakan melakukan intervensi militer.

Trump menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “mengerikan”. Pada Senin (9/4/2018) kemarin, Trump mengadakan rapat terbatas dengan jajaran tinggi pemerintahannya serta para jenderal untuk membahas rencana serangan tersebut.

Dia menjanjikan akan memutuskan rencana tersebut maksimal dalam waktu 48 jam.
Juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders menyampaikan kepada awak pers, Trump bahkan membatalkan rencana kunjungannya ke Amerika Selatan untuk berkoordinasi soal respons ke Suriah dan memantau perkembangan di dunia.

Sementara kantor berita DPA pada Selasa (10/4/2018) melaporkan, tentara Suriah telah menerjunkan personil militernya ke setiap basis strategis seperti bandara dan semua pangkalan militer dalam waktu 72 jam.
Situasi siaga itu juga diberlakukan di pangkalan militer wilayah selatan Suriah di Sweida, Aleppo, Latakia, dan Deir ez-Zour.

Kantor berita pro pemerintah Al-Masdar melaporkan dalam situsnya, armada kapal perang Rusia Black Sea telah meninggalkan perairan Siprus menuju laut Suriah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi pemerintah Rusia.

Baca Juga:  Turki Siap Serbu Suriah Untuk Gagalkan Pasukan Kurdi Bentukan Amerika¬†

Melansir dari Al Jazeera, setelah pernyataan Trump, kapal penghancur AS yang dilengkapi rudal kendali telah
dikerahkan menuju ke pesisir Suriah.

Mantan Panglima Pasukan Udara tentara Rusia Vladimir Shamanov berjanji, Moskow akan menempuh seluruh upaya baik politik, diplomatik, hingga konfrontasi militer jika AS benar-benar merealisasikan ucapan Trump dengan melancarkan serangan militer ke Suriah.

Situasi semakin menegangkan bagi kubu rezim Assad yang didukung Rusia dan Iran. Pasalnya, Inggris dan Prancis telah mengikuti langkah AS dengan merespons keras serangan senjata kimia rezim Assad ke Douma, Ghouta Timur, pada Sabtu (7/4) lalu.


Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Selasa kemarin memperingatkan, Paris akan membalas serangan Assad ke Douma jika bukti senjata kimia ditemukan di lokasi serangan. Ketika diwawancarai radio Europe 1, Macron mengatakan, tim intelijen telah mengonfirmasi adanya unsur kimia di wilayah Douma.

Sementara Perdana Menteri Inggris Theresa May–yang dalam beberapa waktu terakhir telah lebih dulu bersitegang dengan Rusia soal kasus racun saraf–mengatakan, rezim Suriah dan Rusia harus diseret ke pengadilan. (rilis.id/AFP)

3 Komentar

  1. Jadi ingat perang teluk.. Irak hancur lebur dan gak mungkin pulih ratusan th kedepan… Ternya ta usa mengakui terjadi kesalahan intelejen.. Bahwa tdk ada senjata kimia di irak.. Sekarang suriah..

Tinggalkan Balasan