Tahun 2020 Rusia Akan Bentuk Unit Militer Robot Perang

Tahun depan Rusia akan mulai membentuk unit tempur berisikan Robot perang tanpa awak. Robot tempur multifungsi ini akan terdiri dari lima mesin yang dikendalikan oleh satu platform dan diharapkan siap beroperasi penuh pada tahun 2025.

Salah satu robot pertama akan didasarkan pada platform Marker, dan berpenampilan menyerupai versi mini dari kendaraan tempur (ranpur) infanteri.

Detasemen pertama “tank tak berawak” akan terdiri dari lima mesin yang digerakkan kecerdasan buatan. Kelimanya akan melakukan tugas khusus masing-masing dan bersama-sama akan dapat menggantikan sepenuhnya kekuatan manusia.

“Itu tidak hanya mencakup prajurit yang menembakkan senapan mesin, tetapi juga mengoperasikan personel. Sebagai contoh, beberapa mesin akan mengambil alih peran operator senjata yang memonitor target di darat dan menyusun rencana serangan. Yang lain akan bekerja sebagai ‘pemicu’ dan ‘mekanik’ di medan perang, dan sebagainya,” jelas Viktor Murakhovsky, Pemimpin Redaksi Arsenal of the Fatherland, kepada Russia Beyond.

Robot tempur juga direncanakan mampu meluncurkan modul peluncur granat yang dipersenjatai dengan mortir 120 mm. Senjata itu akan mampu menghancurkan musuh di parit dan kendaraan lapis baja ringan dalam pertempuran lapangan terbuka.

Selain itu, drone kecil yang membawa granat dan bom yang tidak diarahkan akan memberikan dukungan udara untuk pasukan robot.

Selain sistem Marker, Rusia juga sudah memiliki tank mini Uran-9, yang sebelumnya telah digunakan di Suriah. Kompleksitas robot ini didasarkan pada sasis tangki.

Baca Juga:  Amerika Tak Terima Lagi Komponen F-35 Dari Turki

Uran-9 memberikan tembakan perlindungan untuk infanteri dan pengintaian, serta melindungi instalasi militer. Berkat sistem rudal Ataka dan Igla-nya, robot ini dapat melenyapkan berbagai target yang sangat luas, dari pesawat musuh yang terbang rendah hingga kendaraan lapis baja ringan dan benteng.

Selain itu, Uran-9 juga dilengkapi meriam otomatis 30 mm 2A72 dan senapan mesin 7,62 mm, yang memberikan laju tembakan hingga 350 – 400 tembakan per menit.

Namun, tidak semua ahli optimis terhadap robot itu di medan perang masa depan. Beberapa ahli menilai terdapat sejumlah masalah desain yang perlu diatasi jika robot tempur itu dipersiapkan untuk menggantikan sepenuhnya prajurit manusia di medan perang.

“Masalah utama dari semua sistem robot adalah perlunya remote control. Robot tidak dapat membuat keputusan independen untuk menghilangkan musuh, dan jika tautan satelit hilang karena serangan rudal atau alasan lain, mesin akan dinonaktifkan secara efektif,” ujar Dmitry Safonov, Analis Militer surat kabar Izvestia, kepada Russia Beyond.

“Manusia akan tetap berada di medan perang untuk beberapa dekade mendatang,” tegasnya.

Sumber: id.rbth.com, defensenews.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan