Telat Kirim Pesawat NC-212 Ke Thailand, PT DI Kena Denda 93 Milyar

PT Dirgantara Indonesia (PT DI)  dituntut membayar denda sebesar 7juta dollar AS atau sekitar 93 Milyar rupiah karena terlambat menyelesaikan pesanan pesawat NC-212-400 yang dipesan Kementerian Pertanian dan Koperasi (MOAC) Thailand. 

Denda sebesar 93 Milyar sangat besar bila dibandingkan dengan harga jual pesawat NC-212/499. Harga 1 unit pesawat NC-212-400 menurut data flightglobal.com berkisar antara 70-90Milyar rupiah (5,2-8juta dollar Amerika) tergantung spesifikasi. Besar kecil denda dalam industri pesawat terbang erat kaitanya dengan seberapa lama pesawat terlambat dikirim. 

Pesawat NC212 tersebut dipesan MOAC Thailand sejak tahun 2011 dari PT DI. Sebuah pesawat normalnya butuh waktu 3tahun untuk pembuatanya, berarti seharusnya pesawat diserahkan pada 2014 paling lambat. Jika baru diserahkan pada 2017 berarti ada keterlambatan sampai 3 tahun dari jadwal.
Menurut pengakuan Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh, salah satu alasan keterlambatan pengiriman pesawat NC-212-400 ke Thailand adalah adanya bird strike impact, yakni kerusakan akibat burung yang masuk ke dalam mesin. Ini terjadi saat pengujian pesawat tersebut.

“Karena rusak akhirnya kita melakukan pemesanan engine baru,” kata Budiman saat ditemui di Kantor PTDI, Bandung, Rabu (15/3/2017).

Budiman menambahkan, denda yang harus dibayar PTDI terlalu berat. Dengan dukungan Kedubes RI di Bangkok, PTDI memohon keringanan denda kepada MOAC agar bird strike impact yang dialami PTDI saat ujicoba dianggap sebagai force majeur.

Baca Juga:  Pesawat N219 Sudah Dipesan Ratusan Unit Walau Belum Ada Sertifikasi

“Kita maju ke majelis pengadaan barang Thailand sehingga minta keringanan denda menjadi 3,5 juta dollar AS sampai 4 juta dollar AS,” tuturnya.

Selain itu sudah dipastikan PTDI tidak akan membayar denda kepada MOAC berupa uang. “3,5 juta dollar AS sampai 4 juta dolar AS dalam bentuk kontrak maintenance. Jadi kita tidak mengeluarkan uang hanya barang dan jasa,” ungkapnya.

Budiman menyebutkan, faktor lain yang menyebabkan keterlambatan tersebut adalah teknologi NC-212-400 yang sudah mulai usang. Hal ini menyebabkan PTDI sulit mencari komponen mesin dan jauhnya transfer fasilitas produksi dan engineering data dari Airbus Military di Spanyol yang harus dikirim ke Bandung.

sumber : kompas.com

1 Komentar

  1. Sudah tau teknologi jadul kenapa tetap saja dipasarkan dan d jual, aneh bener nih pt di, kumpulan orang orang pinter tapi kog ngak bisa antisipasi dan prediksi, gimana bisa maju, pantesan TNI AU mikir pesen ke pt di, pencitraan, terkesan bagus, ngak taunya banyak bolongnya, ayo berubah dan berbenah malu ah…

Tinggalkan Balasan