Terikat Perjanjian, Rusia Siap Bantu Armenia Hadapi Azerbaijan dan Turki

Puing pesawat Su-25 milik Angkatan Udara Armenia yang jatuh.

Jatuhnya dua unit pesawat tempur Sukhoi Su-25 milik Armenia di Nagarno Karabakh pada 30 September 2020 memancing Rusia untuk ikut turun di medan perang melawan Turki dan Azerbaijan. Pihak Turki sendiri membantah bahwa dua Su-25 yang jatuh ditembak oleh F-16 miliknya sesuai tuduhan pemerintah Armenia.

Lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, Rusia memastikan akan mendukung penuh untuk melawan pasukan gabungan Turki dan Azerbaijan.

“Kabar jatuhnya pesawat tempur Su-25 yang disebabkan oleh F-16 menurut Kementerian Pertahanan Armenia, akan memperumit situasi. Karena, Moskow berkewajiban untuk memberikan bantuan militer kepada Armenia, di bawah Perjanjian Taskhent,” ujar Zakharova dikutip VIVA Militer dari Bulgariamilitary.com.

Zakharova juga mengonfirmasi bahwa pemerintah Armenia tengah mempertimbangkan pengaktifan Pasal 4 Pakta Pertahanan Keamanan Kolektif (CSTO) 1992.

CSTO sendiri merupakan perjanjian keamanan yang melibatkan Rusia, dengan anggota Persemakmuran Negara-negara Merdeka. Dan yang perlu diketahui, Armenia adalah salah satu dari lima negara Persemakmuran Negara-negara Merdeka, selain Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan.

Pasal 4 CSTO berbunyi, “Jika salah satu Negara Pihak menjadi sasaran agresi oleh negara atau kelompok negara mana pun, maka ini dianggap sebagai agresi terhadap semua Negara Pihak pada perjanjian ini.”

Situasi ini membuat hubungan Turki dan Rusia kembali memanas. Kedua negara ini juga terlibat dalam pengerahan pasukan proksi, dalam Perang Saudara Libya. Turki mengirim sejumlah pasukannya ke Libya, untuk mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) melawan pasukan pemberontak Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung oleh Rusia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan