Terpilih Lagi, Erdogan Siap Hapus Dwi Fungsi Militer Turki

Recep Tayyip Erdogan kembali terpilih jadi Presiden Turki. Dia berhasil memenangkkan pemilu yang digelar pada hari Minggu (24/6) waktu setempat. Selain Erdogan, partai pengusungnya, Partai Keadilan dan pembanungan Turki (AKP) juga berhasil menjadi pemenang dalam pemilu parlemen.

Erdogan memperoleh sebanyak 52,5 persen suara dibandingkan saingan terdekatnya, Muharrem Ince, yang mendapatkan 30,7 persen suara. Partai asal Erdogan, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), juga mendapatkan 42,5 persen suara dalam pemilihan legislatif. Mereka akan membangun koalisi mayoritas bersama Partai Nasionalis (MHP) yang mendapatkan 11 persen.

Pemungutan suara dihelat pada Ahad (24/6) pukul 08.00 waktu setempat. Lebih dari 56 juta pemilih memberikan suara mereka di lebih dari 180 ribu tempat pemungutan suara (TPS). “Mulai besok kami akan memulai bekerja untuk merealisasikan janji kami kepada masyarakat,” kata Erdogan di hadapan ribuan pendukungnya yang turun ke jalan merayakan kemenangan di Ankara, Senin (25/6).


Janji utama Erdogan adalah mengurangi kekuasaan militer di pemerintahan. Sejak kasus kudeta yang gagal, Erdogan terus melakukan pembersihan terutama pejabat militer. Eredogan ingin menghapus peran militer dalam jabatan sipil, seperti halnya dwi fungsi TNI di masa lalu.


Erdogan juga berjanji otoritas Turki bakal lebih selektif dalam melakukan penangkapan terkait kudeta gagal dua tahun lalu. Sejak kudeta gagal pada 2016 itu, sedikitnya 160 ribu warga telah dipenjarakan dengan tudingan mendukung kudeta. Sejumlah media massa juga dilarang terbit dan beredar.

Baca Juga:  Kapal Induk Liaoning China Siap Untuk Melakukan Operasi Militer

Ia juga agaknya akan meneruskan kebijakan agresif Turki di kawasan. Ia menjanjikan akan terus mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan Suriah dari cengkeraman ISIS sehingga 3,5 juta warga negara itu yang tengah mengungsi di Turki dapat pulang ke kampung halaman mereka dengan aman.

Politikus berusia 64 tahun itu membangun reputasinya selama menjabat perdana menteri (2003-2014) dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Melalui partainya yang berhaluan Islam, ia memenangkan loyalitas jutaan Muslim Turki.

Di bawah pemerintahannya, Turki perlahan mengikis sekularisasi ekstrem yang dimulai Mustafa Kemal Ataturk sejak berdirinya republik itu pada 1923. Erdogan juga mendapatkan loyalitas kelas pekerja dengan membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur.

Pada 2014, ia berhasil memenangkan posisi presiden Turki meski dengan kekuasaan terbatas saat itu. Pada 2017, melalui referendum, ia berhasil mendorong amendemen konstitusi Turki yang memberikan kekuasaan yang jauh lebih besar bagi presiden.

Pemilu kali ini menjadi pemilihan pertama dengan konstitusi baru itu. Artinya, Erdogan akan menjabat lima tahun mendatang dan lima tahun lagi jika kembali terpilih. Bagaimanapun, konstitusi baru memberi kesempatan memperpanjang masa jabatan jika sebelum masa jabatan kedua berakhir parlemen Turki sepakat mempercepat pemilu.

Sumber: republika.co.id

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan