Testimoni 4 Pilot Senior Setelah Mencoba Pesawat F-35B

Pada demonstrasi Proof of Concept yang diadakan oleh US Navy (USN)/ US Marine Corps (USMC) di atas USS America, lepas pantai California Selatan tanggal 19 November 2016, The Aviationist bersama beberapa jurnalis lainnya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan empat orang pilot F-35B.

Empat orang ini adalah sebagian dari pilot-pilot F-35B yang paling berpengalaman di USMC, dan pengalaman mereka dalam menerbangkan pesawat sebelumnya memberikan konteks yang berbobot bagi pernyataan mereka.

Keempat orang itu adalah:

-George “Sack” Rowell, Commanding Officer (CO) dari VMX-1 (Marine Operational Test & Evaluation Squadron). Sebelum menerbangkan F-35, Rowell menghabiskan sekitar 3000 jam selama 18 tahun menerbangkan F/A-18 Hornet. Sebelumnya ia juga menjadi CO dari VMFA(AW)-533.

-Col. Chad “Mo” Vaughn, CO of VMFA-211. Sebelum F-35, Vaughn menghabiskan 1000 jam selama 13 tahun menerbangkan F/A-18A-D Hornet, dan juga sempat menerbangkan F-16A-B Fighting Falcon/Viper dan F/A-18 Super Hornet di NAS Fallon.

-Col. Rich “BC” Rusnok, ditetapkan akan menjadi CO dari VMFA-121 pada bulan Maret 2017. Sebelum menerbangkan F-35, Price menghabiskan sekitar 7 tahun menerbangkan AV-8B Harrier II dengan waktu tambahan di dalam F/A-18 Hornet.

-Col. John “Guts” Price, akan menjadi CO dari VMFA-122 (2018). Sebelum menerbangkan F-35, Price menghabiskan sekitar jam dan 10 tahun menerbangkan AV-8B Harrier II, dan sudah menghabiskan waktu 400 jam dalam F-35 selama 3 tahun terakhir.

Berikut pertanyaan yang diajukan oleh The Aviationist, beserta jawaban dari masing-masing pilot:

“Dalam level personal sebagai seorang pilot, yang sudah terbiasa dengan platform lain lalu berpindah ke F-35, apakah ada momen-momen “aha” yang bisa anda ceritakan?”

– Col. John “Guts” Price

Momen “aha” pertama saya adalah sesuatu yang nampaknya sangat sederhana.

Saya sedang melaksanakan sebuah penerbangan familiarisasi dekat MCAS Yuma. Saya sedang kembali ke pangkalan udara dan hanya membelokkan pesawat, dan mengarahkan hidungnya ke Yuma. Dengan segera, jet tersebut memberikan saya informasi tentang segala lalu-lintas yang ada di ruang udara. Ketika saya berbicara ke ATC pertama kali, mereka memberikan informasi kepada saya mengenai lalu-lintas yang sudah saya ketahui terlebih dahulu. Saya bisa mengetahui siapa-siapa saja yang dibicarakan oleh ATC dan jet saya juga melihat pesawat-pesawat yang belum dilihat oleh ATC.

Dan dalam pikiran saya, “Astaga !” saya sedang kembali dari misi familiarisasi sederhana dan jet saya mengatakan kepada saya semua hal mengenai lingkungan operasional yang akan saya masuki. Dalam kasus ini, jet saya memberitahu mengenai sesuatu yang sangat sederhana, yaitu pola lalu-lintas ketika saya kembali. Akan tetapi, saya tidak harus melakukan apa-apa untuk mencapai tingkat SA [Situational Awareness] seperti itu. Saya bisa mulai membuat keputusan tentang ketinggian pesawat saya, apakah saya akan belok kiri atau kanan, menambah atau mengurangi kecepatan. Ada orang yang mendekat ke sebelah saya, saya bisa melaju mendahului mereka –atau apapun. Ini adalah contoh yang sangat simpel, namun saya pikir, ketika saya bisa melihat segala sesuatu, hal ini sangat menakjubkan.

Baca Juga:  India Borong 400 Tank T-90 Rusia Senilai 2 Milyar Dolar

Momen lain adalah ketika saya pertama kali mendaratkan F-35B secara vertikal. Flight control law yang dimiliki pesawat tersebut luar biasa. Ketika menerbangkan AV-8B Harrier II, saya memiliki satu pesawat khusus yang saya rasa dapat saya kontrol dengan mudah, pesawat tersebut akan diam saja dan hover dengan kontrol minimal. Saya suka menerbangkan Harrier, namun saya harus melakukan usaha untuk mendaratkan pesawat tersebut secara vertikal. Pertama kalinya saya melakukan hover dengan F-35B, saya pikir, saya malah menghambat sehingga saya akan membiarkan jet tersebut melakukan apa yang ingin ia lakukan. F-35 melakukan hover lebih baik tanpa saya harus melakukan apapun, ketimbang ketika saya melakukan hover dengan Harrier. Kembali ke komentar tentang beban kerja yang saya utarakan tadi. Saya melaksanakan pendaratan vertikal, dan saya punya waktu untuk melihat sekeliling dan mengamati apa yang terjadi di pad dan di sekitar saya.

– Col. Rich “BC” Rusnok

Saya sedang melaksanakan sebuah misi serang dan Red Air (OPFOR) sedang datang ke arah saya. Dalam sebuah fighter 4th gen anda harus melakukan banyak interpretasi. Anda melihat segala sesuatunya dalam azimuth dan elevasi. Dalam F-35, anda dapat melihat seluruh dunia dengan sudut pandang mata Tuhan (God’s eye view). Hampir sama seperti menonton briefing secara real-time.

Saya bergerak untuk melakukan simulasi pelepasan senjata, dan Red Air datang dari arah yang berlawanan. Saya memiliki situational awareness yang cukup untuk menilai apakah Red Air akan menjadi masalah bagi saya pada saat nanti saya melepaskan senjata. Saya bisa membuat keputusan untuk pergi ke target dan melepas senjata. Secara bersamaan, saya melakukan pre-targeting pada Red Air, dan setelah saya melepaskan senjata A2G, saya bisa menekan sebuah tombol dengan ibu jari saya dan menembak Red Air.

Ini susah untuk dilakukan dalam sebuah fighter 4th gen, karena ada banyak sekali manipulasi sistem yang perlu dilakukan dalam kokpit. Semuanya harus dilakukan dengan memperhatikan mekanisme dasar ketika menerbangkan pesawat dan mengartikan peringatan ancaman yang acapkali sangat tidak jelas, atau hanya bersifat direksional. Dalam F-35 saya tahu dimana ancaman-ancamannya dan apa bentuknya. Saya bisa mengetahui bahwa musuh berada di depan saya dan saya bisa membuat keputusan yang sangat, sangat pintar tentang apakah saya akan lanjut atau keluar dari sana. Semuanya itu, dan saya bisa mengganti mission set saya dengan sangat mudah.

Baca Juga:  Ryoko Azuma Jadi Wanita Jepang Pertama Jadi Komandan Kapal Perang

– Col. Chad “Mo” Vaughn


Saya sedang memimpin empat F-35 dalam serangan melawan musuh 4th gen, rombongan F-16 dan F/A-18. Kami bertempur masuk, memetakan target, menemukan target, menjatuhkan JDAM ke atas target, berputar balik dan bertempur keluar. Semua target berhasil dikenai, tidak ada dari kami yang terdeteksi, dan semua lawan kami mati. Saya pikir ya, pesawat ini bekerja dengan sangat, sangat, sangat baik. Tidak pernah terdeteksi, tidak ada seorangpun yang tahu dimana kami berada.


Momen kedua terjadi hari Kamis lalu. Saya menghabiskan banyak waktu dalam hidup saya sebagai seorang tail hook guy (penerbang F/A-18 di supercarrier US Navy) –dalam carrier deployment berdurasi panjang. 18 detik terakhir dalam sebuah pendaratan di kapal induk adalah sesuatu yang intens. 18 detik terakhir dalam sebuah pendaratan vertikal di atas assault carrier USMC yang lebih kecil –adalah sesuatu yang jauh lebih santai. F-35 melakukan hal-hal yang hebat. Pendaratan vertikal pertama saya minggu ini di atas kapal bergerak, yang jauh lebih kecil dari apapun yang sebelumnya saya darati di laut –dengan stress yang lebih sedikit, adalah sesuatu yang luar biasa.

– George “Sack” Rowell

Penerbangan pertama saya dengan F-35 di Edwards AFB Januari ’16. Saya masuk ke dalam pesawat dan menyalakannya. Saya masih di darat dan ternyata ada beberapa F-35 lain di udara –saya percaya milik USAF, saya tidak tahu sebelumnya. Saya hanya akan terbang sendirian untuk familiarisasi. Ketika display menyala, sudah ada track file dan SA mengenai apa yang dilakukan orang-orang lain di dalam ruang udara, padahal saya masih di darat. Maksudnya, saya bahkan masih belum mendapat take-off clearance. Saya bahkan tidak tahu informasi ini datangnya dari mana. Informasi ini datang dari F-35 lain. Jet tersebut telah menyalakan semua sistem untuk saya dan SAnya ada. Itu adalah momen yang sangat membuka mata bagi saya.

Momen kedua terjadi ketika saya kembali dari penerbangan itu. Dalam sebuah Hornet, setelah anda parkir anda harus mematikan pesawat dan sistem-sistemnya secara metodis, karena jika tidak, dapat terjadi kerusakan. Jadi anda harus mengikuti urutan-urutan yang ada, yang sangat metodis tentang sistem-sistem elektronik yang harus dimatikan. Dalam sebuah F-35, anda kembali, melakukan beberapa hal lalu anda tinggal mematikan mesin, dan pesawat melakukan sisanya untuk anda. Terdengar sederhana, bahkan bodoh –namun ini adalah lompatan kuantum.

Sumber:

https://theaviationist.com/2016/12/08/four-of-the-most-experienced-usmc-f-35b-pilots-speak-about-their-aircraft-and-they-say-its-exceptional/

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan