Thailand Bakal Diperkuat Meriam Buatan Israel di Perbatasan Dengan Kamboja

ATMOS 2000 (Autonomous Truck MOunted howitzer Syste) yang dikembangkan oleh Soltam Systems

Thailand telah melakukan teken kontrak dengan perusahaan senjata asal Israel Elbit Systems untuk pembelian sistem meriam howitzer 155mm L/52 autonomus truck mounted Gun (ATMG). Pembelian ini disertai dengan transfer teknologi untuk negeri Gajah Putih tersebut.

Sebagian besar dari pesanan meriam juga akan dirakit di Thailand untuk memastikan keberhasilan transfer teknologi. Rencananya, meriam akan dirakit di Weapon Production Centre’s Defence Industry & Energy Centre (WPC DIEC).

Thailand akan menempatkan senjata ini di sepanjang garis perbatasan dengan Kamboja. Sampai saat ini, dua negara ini masih berseteru terutama mengenai status komplek kuil Preah Vihear. Terakhir pada tahun 2008, sempat terjadi kontak senjata besar-besaran antara keduanya dekat Kuil Preah Vihear yang menewaskan 29 tentara.

Sistem ATMG yang dibeli Thailand ini sebelumnya dikenal sebagai ATMOS 2000 (Autonomous Truck MOunted howitzer Syste) yang dikembangkan oleh Soltam Systems sebelum diakuisisi oleh Elbit Systems.

Sistem artileri otonom ini memiliki jarak operasi yang jauh, bergerak dan penyebaran cepat, waktu respons singkat serta dapat dioperasikan di segala medan. Sistem sepenuhnya terkomputerisasi yang menyediakan kontrol tembakan otomatis, navigasi akurat, serta akuisisi target.

Sistem meriam ini dipasang pada sasis truk buatan Ceko yakni Tatra T815 berpenggerak 6×6 yang dilengkapi mesin diesel berdaya 315 hp. Berat totalnya mencapai 22 ton dan bisa diterbangkan lewat udara menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules.

Baca Juga:  PBB Didesak Larang Penggunaan Robot Dalam Perang
ATMOS 2000 (Autonomous Truck MOunted howitzer Syste) yang dikembangkan oleh Soltam Systems yang akan segera memperkuat Thailand

Dioperasikan oleh empat orang awak termasuk dua orang sebagai pemasok munisi ke meriam, sistem artileri ini membawa total 32 proyektil dengan tingkat tembakan antara 4 dan 9 putaran per menit. Kabin truk dilengkapi lapis baja yang kebal terhadap senapan serbu dan serpihan peluru artileri.


Munisi yang digunakan adalah kaliber 155 mm/52 standar NATO Joint Ballistic Memorandum of Understanding (JBMoU). Menggunakan proyektil standar L15 High Explosive (HE) jangkauannya mencapai 30 km. Bila menggunakan proyektil Extended Range Full-Bore-Base Bleed (ERFB-BB) mencapai 41 km. Sementara bila menggunakan proyektil M107 HE yang lebih tua hanya 24,5 km.

Sistem SPH ini juga dilengkapi sebuah auxiliary power unit (APU), digunakan untuk mempersiapkan kendaraan menembak, mengoperasikan elevasi senjata, dan menggerakkan sistem bantuan beban ketika mesin utama dimatikan. Howitzer dapat dioperasikan secara manual jika terjadi keadaan darurat.


Sistem senjata yang sama sebelumnya juga telah digunakan oleh AD Thailand (Royal Thai Army) yang saat ini memiliki 18 unit, diperoleh sejak tahun 2015 dan berencana akan menambah 36 unit lagi ke depannya.

Untuk sementa Marinir Thailand baru diperkuat enam unit 155mm L/52 ATMG saja, yang akan menggantikan sistem howitzer tarik 155 mm mereka yang telah uzur. Terdiri dari 12 unit tipe GC-45 dan 6 unit tipe GHN-45A1 APU buatan Space Research Corporation (SRC) Kanada yang telah beroperasi selama lebih dari 30 tahun.

Baca Juga:  Mantan Tentara Marinir Amerika, Divonis Penjara Seumur Hidup Di Jepang

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan