TNI AL Jajaki Pembelian Drone Intai Buatan Austria

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Aan Kurnia menyatakan masih menjajaki rencana pembelian drone intai buatan Austria untuk membantu pengamanan di laut.

Hal itu dikatakan Pangarmabar usai menyaksikan uji coba pesawat tanpa awak (drone) intai Rajawali 4-100 buatan PT Schiebel Elektronische Gerate Gmbh, Austria di Perairan Batam, Kepulauan Riau, Sabtu.

“Kami masih dalam penjajakan untuk pembelian drone guna membantu tugas pengamanan laut. Untuk pengamatan awal lebih efektif kalau pakai alat seperti ini dari pada helikopter. Jadi kami cari yang memiliki kemampuan sesuai dengan tugas kami,” kata dia.

Drone Rajawali S-100 berbentuk helikopter yang diuji coba didukung oleh sistem yang memiliki kemampuan tinggi dan merupakan perangkat yang mudah dibawa untuk operasi laut maupun darat.

Drone ini mampu diaplikasikan sebagai alat intai jarak jauh, operasi di pesisir pantai, dukungan misi, pelindungan convoy, pengamanan multi sensor, anti penyelundupan, keamanan perbatasan, SAR dan pengawasan multi sensor.

Spesifikasi terbang yang dimiliki drone meliputi kecepatan terabang maksimul 130 knot (240 km/jam), kecepatan laju 100 knot (185 kilometer per jam) dan kecepatan operasi 55 knot (100km/jam).

Drone tersebut juga memiliki daya terbang lebih dari enam jam dengan playload 25 kilogram dan kemampuan ketinggian jelajah 18.000 fl (5500 meter).

Spesifikasi teknis drone antara lain diameter rotor utama 3400 mm, panjang total 3110 mm, tinggi 1120 mm, berat maksimal T/O 200 kg, berat kosong 110 kilogram, kemampuan tanki bahan bakar interna 57,1 liter, tangki BBM eksternal mencapai 25,4 liter dan mampu menjangkau data link sejauh 200 kilometer.

Drone dilengkapi layar mission control yang dapat memberikan informasi video dengan waktu nyata dari kamera pilot termasuk penampilan data penerbangan seperti pada umumnya di pesawat modern.


Dengan tampilan multi fungsi pada layar kontrol, pesawat mampu memberikan informasi dan peringatan tentang sistem yang ada di pesawat dan di darat.

Arsitektuk dan link yang dimiliki drone tersebut juga mampu menyediakan data dengan bendwidth yang tinggi sehingga secara bersamaan dapat mengirimkan multiple video streams dan memungkinkan integrasi yang sederhana dari bermacam-macam payload.

“Secara umum sudah bagus. Namun untuk kameranya belum sesuai dengan harapan kami. Katanya kamera yang dipakai kali ini belum yang terbaik, makanya kami masih dalam tahap penjajakan,” kata Aan.


Sumber: antarNews.com

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan