Tolak Tawaran Rusia, Menhan Malaysia Bilang Tidak Ada Rencana Pembelian Pesawat Baru

Kementerian Pertahanan Malaysia secara resmi mengeluarkan statemen bahwa tidak ada rancangan untuk membeli pesawat tempur baru, kata Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu.

Bahkan tawaran Rusia untuk trade-in 28 pesawat tempur Su-30MKM dan MiG-29 dan pesawat Su-35 juga ditolak.

“Kementrian Pertahanan lebih mengutamakan pada pesawat patroli perbatasan maritim untuk menghalau pesawat asing,” katanya pada sidang Dewan Rakyat hari ini.

Beliau menjelaskan bahwa kebijakan ini adaah bagian dari program Pelan Pembangunan Keupayaan Tentera Udara Diraja Malaysia 2055 (CAP55) yang menggariskan “perancangan menyeluruh” pembangunan angkatan udara sampai tahun 2055.

Dalam plan CAP55 terdapat rencana untuk pembelian alutsista baru, penggantian pesawat usang, kenaikan gaji pasukan serta masalah terkini yaitu kurangnya jenis pesawat tempur, isu pesawat tua dan anggaran yang minim.

Ini pertanda, Malaysia akan terus menggunakan Su-30MKM dan pesawat tempur F/A-18D untuk 10 tahun lagi sehingga 2030, saat plan CAP55 masuk ke tahapan ke-12 dan ke-13.

Anggota parlemen Ahmad Fadhli Shaari (PAS-Pasir Mas) meminta Menteri Pertahanan untuk menyetujui tawarain Rusia untuk trade-in/tukar tambah Su-30MKM dan MiG-29 dengan pesawat baru Su-35.

“Keperluan terkini adalah perolehan Maritime Patrol Aircraft (pesawat peronda maritim) dan Medium Altitude Long Endurance Unmanned Aerial Vehicle (pesawat udara tanpa pemandu altitud sederhana ketahanan lama), serta keupayaan tempur ringan dan latihan juruterbang melalui perolehan Light Combat Aircraft (pesawat tempur ringan),” jawab Menhan Malaysia.

Baca Juga:  30 Helikopter Ka-52 Alligator Akan Perkuat AU Rusia

“Antara perkara yang kita titik beratkanialah kemudahan mendapatkan alat ganti untuk selenggaraan,” katanya, dan menambah kos menyelenggara Su-30MKM berjumlah RM200 juta setahun.

Sementara itu, Mohamad memaklumkan kertas putih melibatkan kementerian itu akan turut dibentangkan pada sidang Parlimen kali ini.

“Sebab sekarang ini jet-jet mahal, kadang-kadang perlu tapi kadangkala dron yang lebih murah biayanya bisa menjalankan tugas seimbang dengan jet yang lebih hebat,” katanya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan