Torpedo Manusia, Senjata Bunuh Diri TNI AL

Banyak cara bagi pasukan khusus dari berbagai negara agar dapat menenggelamkan kapal perang musuh secara rahasia dan efektif, salah satunya adalah dengan menggunakan ‘torpedo’ yang dikendalikan manusia (human torpedo).

Dengan bentuknya yang merupakan kapal selam mini senjata khusus bawah laut jenis ini sebenarnya sama sekali tidak nyaman.

Pasalnya susah dikendalikan, sehingga kerap dijuluki senjata bunuh diri (suicide weapon).

Pasukan Jepang termasuk yang pernah menggunakan human torpedo dalam PD II dengan cara menabrakkan ke kapal perang Sekutu secara langsung.

Dalam sejarahnya, human torpedo pertama kali dioperasikan oleh AL Italia semasa Perang Dunia I yang terjadi pada 1914-1918.


Saat itu, sebuah torpedo yang dalam bahasa Italia yang disebut Malale ditumpangi dua personel AL, lalu dengan sistem kendali sederhana diarahkan ke kapal perang musuh.

Agar tak terlihat musuh, senjata ini hanya dioperasikan pada waktu malam dan tepat pada kemunculan bulan baru.

Ketika torpedo sudah meluncur ke kapal musuh, dua personel pengendalinya buru-buru melompat ke laut untuk menyelamatkan diri.

Hasilnya ternyata luar biasa kapal musuh meledak begitu dihantam torpedo dan tenggelam.


Padahal dau personel pengendalinya, yakni Rafaelle Paolucci dan Rafaelle Rossetti yang hanya menggunakan baju selam tanpa alat bantu pernapasan.

Tapi berkat keberanian dan sebenarnya sekaligus kenekatannya mereka bisa menenggelamkan kapal tempur Viribus Unitis dan kapal barang Wien milik AL Austro-Hungaria.

Baca Juga:  Danramil Cempaka: Dikasih Menu Apa Saja Kita Terima Ikhlas

Sayang, karena tidak disertai kapal pendukung untuk melarikan diri keduanya berhasil ditangkap lalu dijebloskan ke dalam tahanan.

Tapi pengalaman itu tak membuat mereka jera. Pada peperangan berikutnya, Decima Flottiglia (Armada Kapal Tempur AL Kerajaan Italia) mengoperasikan lagi human torpedo pada Perang Dunia II (1942).

Caranya adalah dengan pengendalian oleh personel yang sudah dilatih khusus, yakni seorang pasukan katak (frogman) yang biasa disebut noutatori untuk menyerang kapal perang Inggris.

AL Inggris Pada Oktober 1942 juga mencoba untuk menjebol kapal perang AL Jerman, Tirpitz, dalam Operasi Title menggunakan human torpedo.

Sebelum menjalankan misi tempur yang sesungguhnya AL Inggris melaksanakan uji coba terlebih dahulu.

Tapi demo senjata ini buyar di tengah jalan, karena personel pengendali tak mampu mengendalikan senjata yang tergolong rahasia ini..

Sebaliknya, human torpedo yang dikendalikan tiga prajurit AL Italia juga gagal menghajar kapal perang Inggris, Olterra.

Ketiga awaknya bahkan menemui ajal setelah menabrak ranjau yang ditaruh AL Inggris di sekitar wilayah perlintasannya.

Meski merupakan senjara rahasia yang sangat beresiko pasukan Kopaska TNI AL (ALRI) ternyata pernah mengoperasikan torpedo manusia dalam Operasi Trikora.

Tapi, human torpedo buatan ALRI berbeda dibanding human torpedo buatan AL Italia dan AL Inggris.

Human torpedo ala ALRI berupa perahu kecil yang dikendalikan prajurit dan di bagian ujungnya diikatkan torpedo yang biasa diusung kapal selam.

Baca Juga:  Mengenal Soegeng Boedhiarto, Veteran Perang Kemerdekaan Dari Etnis China

Cara penggunaannya adalah kapal dikendalikan menuju kapal musuh dan sebelum terjadi benturan prajurit pengendali sudah melompat terlebih dahulu ke air.

Tapi, senjata ini batal digunakan karena Indonesia bisa merebut Irian Barat melalui diplomasi PBB.

Namun Torpedo ternyata tetap digunakan oleh Kopaska untuk melakukan operasi penyusupan yakni dengan menggunakan torpedo yang kosong.

Torpedo tanpa bahan peledak itu ‘diisi’ personel Kopaska dan kemudian diluncurkan ke laut bak kapal selam mendekati kapal musuh.

Setelah dekat personel Kopaska diam-diam keluar untuk melancarkan misi tempurnya.

Operasi mengunakan torpedo untuk mengangkut pasukan itu sebenarnya cukup rumit dan beresiko tinggi serta hanya pasukan sangat terlatih yang bisa melakukannya. (Agustinus Winardi)

Sumber : Kopaska Spesialis Pertempuran Laut Khusus TNI AL 2012/TSM/Intisari.co.id

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan