Trump Minta Arab Saudi Membayar Pasukan Amerika di Suriah

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terang mengakui dan meminta agar Arab Saudi membayar biaya operasional pasukan AS di Suriah jika tidak maka AS akan angkat kaki.

“Arab Saudi sangat tertarik dengan keputusan kami (menarik pasukan) dan saya mengatakan kepada mereka, jika kalian ingin kami tetap di Suriah, mungkin Anda harus membayar,” kata Donald Trump seperti diberitakan oleh Aljazirah, Rabu (4/4).

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud sebelumnya sempat melakukan pembicaraan dengan Trump melalui telepon. Diskusi kedua pemimpin negara itu menyangkut isu di Timur Tengah, termasuk perdamaian Palestina-Israel. Kedua pemimpin juga berusaha mencari peluang untuk mempererat kerja sama bilateral kedua negara.

Meski demikian, perbincangan tersebut tidak menyebutkan diskusi tentang biaya yang harus dibayar pemerintah Arab Saudi untuk menambah kontrak kerja militer AS di Suriah. Diskusi tersebut juga tidak masuk dalam bahasan saat putra mahkota Mohammed Bin Salman (MBS) mendatangi Gedung Putih pada 20 Maret kemarin.

Trump mengatakan, kehadiran militer AS di Suriah hanya untuk memerangi kelompok ekstremis ISIS. Dia mengatakan, saat ini tugas tersebut sudah hampir rampung. Amerika Serikat, kata dia, akan segera membuat keputusan setelah berkoordinasi dengan pihak lain di kawasan tersebut.

Trump mengaku berniat untuk segera menarik mundur pasukan AS dari negara tersebut. Menurut Trump, Paman Sam telah melakukan banyak hal untuk Suriah. Menurutnya, perang di kawasan tersebut sangat membebani keuangan negara.

Baca Juga:  Myanmar Siap Pulangkan Pengungsi Rohingya dari Bangladesh

“Dan itu lebih banyak membantu negara lain dari pada membantu negara kami sendiri,” kata Trump.

Trump mengungkapkan, intervensi AS di Timur Tengah yang saat ini tengah berlangsung memakan biaya yang tidak sedikit dan terus meningkat. Apalagi, dia mengatakan, dalam belasan tahun perang, AS tidak mendapatkan apapun kecuali kematian dan kehancuran.


Menurut Trump, sejauh ini AS telah sukses melawan ISIS. Paman Sam dinilainya berhasil melawan siapa pun secara militer. Dia mengatakan, kehancuran yang didapat negara akibat keterlibatan dalam perang tersebut merupakan hal yang mengerikan.

“Jadi ini sudah waktunya. Saatnya untuk pulang. Dan kami memikirkan hal itu dengan sangat serius,” kata Trump.


Sebelumnya, Pemerintahan Presiden Barrack Obama melancarkan perang pada 2014 lalu melawan ISIS. Kampanye militer dilakukan saat kelompok itu berkembang setelah adanya kekacauan perang saudara di Suriah. Kelompok itu terus berkembang hingga perbatasan Irak dalam upaya untuk mengambil alih Baghdad.
(republika)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan