Tunov Atmodjo, Pahlawan Cabai Melawan Tengkulak dan Mafia

Nama lengkapnya Tunov Mondro Atmodjo, baru berusia 34 tahun. Pemuda ini dengan keberanianya melawan tengkulak dan mafia cabai dalam usahanya untuk mengangkat pendapatan petani cabai.

Tahun 2010 petani cabai di Magelang, Jawa Tengah, terpukul akibat harga jual cabai terjun bebas hingga Rp 2.000 per kilogram. Ratusan petani bangkrut dan terjerat utang. Belajar dari peristiwa itu, Tunov Mondro Atmodjo turun ke ladang untuk mengurai akar masalah.

Alih-alih mengejar peningkatan produksi cabai, ia memilih membangun kesadaran petani pada seluk-beluk bisnis cabai. ”Saya mengubah pola pikir petani mengenai budidaya cabai, mulai dari pemeliharaan hingga penanganan pasca panen,” kata Tunov, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Giri Makmur, Kabupaten Magelang, ini.

Cabai bisa dipanen mulai umur 90 hari sampai 6 bulan. Setiap minggu pada musim panen, cabai bisa dipetik 2-3 kali. Satu pohon menghasilkan sekitar 115 cabai dan 1 kilogram (kg) setidaknya 350 cabai.

Kalau harga jual terendah Rp 15.000 per kg, petani memperoleh hasil bersih Rp 5 juta. Idealnya, harga jual cabai di tingkat petani minimal Rp 20.000 per kg supaya petani untung 20 persen. Kenyataannya, harga cabai sering jatuh karena adanya mafia.

Mereka bisa menekan harga di tingkat petani serendah mungkin, kemudian menjual harga cabai di pasar setinggi mungkin. Akibatnya, harga cabai tak terkendali dan menjadi pemicu inflasi.

Baca Juga:  Dikatai Anak Pelacur, Obama Langsung Boikot Pertemuan Presiden Filipina

Bisnis cabai memang menggiurkan. Setiap hari Jakarta saja membutuhkan pasokan 120 ton cabai. Pemasok cabai menyetor jam berapa pun pasti diterima pasar. Sayang, jalur distribusi cabai dari petani ke pedagang pasar dikuasai mafia. Akibatnya, perbedaan harga jual di tingkat petani dan harga jual di pasar bisa sampai 120 persen.

Tunov ingin petani setidaknya bisa menguasai 30 persen pasar cabai di Jakarta. Menurut dia, kunci dalam bisnis cabai sederhana. Siapa yang menguasai cabai pasti menguasai pasar. Karena itu, Tunov membuat jalur pemasaran tunggal sejak 2015. Ia melarang petani menjual cabai sendiri-sendiri.

Cabai yang dipanen dikumpulkan di rumah kelompok tani. Ia lalu memanggil pedagang untuk membeli cabai secara lelang. Penjualan cabai bisa dilakukan tanpa lewat tengkulak atau mafia cabai. Harga cabai di tingkat petani pun meningkat. Selain itu, sebagian cabai dikirim langsung ke pasar induk di Jakarta. Mereka menyebut strategi ini ”operasi pasar”.

Meski risiko ”operasi pasar” cukup besar, strategi ini ampuh menghancurkan monopoli mafia. Ia bercerita, Oktober lalu harga cabai di pasar merangkak di kisaran Rp 45.000 per kg. Dia dan kawan-kawan melancarkan ”operasi pasar” ke Jakarta. Mereka membanderol cabai segar Rp 20.000 per kg. Dalam dua jam, cabai mereka ludes terjual.

Mafia cabai yang berharap mendapat untung besar dari ”menggoreng” harga pun merugi. Ada tengkulak yang rugi hampir Rp 2 miliar akibat gelontoran cabai segar Tunov dan kawan-kawan.

Baca Juga:  Mengapa Manusia Tertarik Pada Rangking Militer Negaranya?

Gerakan Tunov dan para petani itu mendapat perlawanan. Sejumlah tengkulak menebar teror dan ancaman kepada petani dan pedagang yang menerima pasokan cabai dari Magelang. Namun, Tunov dan kawan-kawan tetap bergeming.

Berkat usaha keras mereka, harga cabai di tingkat petani bisa menguntungkan. Gerakan mereka juga mendapat dukungan para petani cabai lainnya, bahkan yang berasal dari kecamatan lain, seperti Grogol, Kajoran, Dukun, Pakis, dan Kopeng di Kota Salatiga.

Gapoktan Giri Makmur yang dipimpin Tunov semakin berkembang. Anggotanya kini berjumlah 700 petani yang tersebar di Kecamatan Secang dan Grabag.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/sosok/2016/11/15/Menggunting-Mafia-Bisnis-Cabai

1 Komentar

Tinggalkan Balasan