Turki Sukses Bikin Mesin Helikopter Sendiri

Turki sukses bikin mesin helikopter sendiri. Produk pertama Turki ini adalah Mesin helikopter denagn kode, TS1400, yang akan digunakan pada helikopter angkut T625 Gökbey dan helikopter tempur T129 ATAK akan dikirim ke Turkish Aerospace Industries (TAI) untuk integrasi pada tahun ini. TS1400 dikembangkan oleh perusahaan Tusas Engine Industries (TEI).

“Inti dari mesin helikopter T625 akan diuji di TAI,” kata Mustafa Varank, Menteri Industri dan Teknologi Turki, seperti dikutip oleh Anadolu Agency, Jumat (19/06).

Mesin untuk Gökbey akan dikirim ke TAI tahun ini, kata Varank, menambahkan, “Mereka akan mulai bekerja untuk melakukan integrasi mesin yang akan digunakan di Gökbey setelah pengiriman ini.”

Pada bulan September 2018, helikopter T625 dengan ditenagai oleh dua mesin turboshaft CTS-800-4A melakukan penerbangan perdananya. Uji coba sertifikasi T625 dimulai Oktober lalu. Pengiriman dijadwalkan akan dimulai pada tahun depan.

Helikopter serang T129 ATAK, yang dibangun oleh TAI di bawah lisensi dari perusahaan Italia-Inggris AgustaWestland, juga menggunakan mesin CTS-800-4A.

Sebelumnya, helikopter T129 dilengkapi dengan dua mesin LHTEC T800-4A yang dibuat oleh Light Helicopter Turbine Engine Company (LHTEC), sebuah perusahaan patungan antara Rolls-Royce dan Honeywell. Setiap mesin dapat menghasilkan output daya 1.359,79 shp. T800-4A adalah versi ekspor dari mesin CTS800, yang dipilih Turki untuk menggerakkan Turkish Light Utility Helicopter (TLUH) pada tahun 2015.

Baca Juga:  AD Korea Selatan Uji Tembak Rudal Hellfire dari Helikopter Apache

AS dikatakan menahan izin ekspor untuk LHTEC T800-4A karena terkena rezim peraturan International Traffic in Arms Regulations (ITAR). ITAR adalah rezim peraturan Amerika Serikat untuk membatasi dan mengendalikan ekspor teknologi yang terkait dengan pertahanan dan militer untuk melindungi keamanan nasional AS dan tujuan kebijakan luar negeri AS selanjutnya.

Pakistan memesan 30 helikopter T129 seharga $ 1,5 miliar pada 2018. Pesanan tersebut terhambat karena tidak tersedianya mesin LHTEC. “Tampaknya kita akan membutuhkan lisensi ekspor AS untuk melanjutkan kesepakatan T129 (dengan Pakistan). Ini bukan masalah teknologi atau keuangan tetapi murni politis saat ini,” kata seorang pejabat pengadaan senior kepada DefenseNews pada 2018.

Ismail Demir, Badan Kepresidenan Industri Pertahanan Turki (SSB), menyatakan pada 6 Januari bahwa Angkatan Darat Pakistan memperpanjang waktu pengiriman untuk helikopter serang T129 selama satu tahun.

Pengembangan mesin turboshaft buatan Turki TEI TS1400 dimulai pada Februari 2017, dan menurut Quwa, dijadwalkan untuk pengoperasian dan produksi serial pada tahun 2025.

“Karena kebutuhan mendesak untuk memensiunkan armada 48 Bell AH-1F lama Pakistan, sekarang mendorong Islamabad untuk mempertimbangkan alternatif lain,” kata Mayor Jenderal Syed Najeeb Ahmed, Komandan Penerbangan AD Pakistan, mengatakan dalam International Military Helicopter Conference yang diselenggarakan oleh Defence IQ di London pada 26 Februari.

“Kami sedang mencari opsi lain. Salah satunya dari Tiongkok, helikopter serang baru yang mereka buat bernama Z-10ME,” katanya. Islamabad dikatakan telah mengevaluasi versi CAIC Z-10 sebelumnya.

Baca Juga:  Maroko Boyong 25 Unit F-16 Blok 72 dan Upgrade 23 Pesawat F-16 Tua

Dengan mesin helikopter domestik Turki TS1400 yang dapat mentenagai T129 dan T625 hampir siap, kesepakatan dengan Pakistan tampaknya dapat kembali ke jalurnya.

Pada bulan Desember 2019, Menteri Pertahanan Filipina Lorenzana mengumumkan bahwa Angkatan Udara Filipina sedang mempertimbangkan pembelian helikopter T129 ATAK. Anggaran mereka untuk helikopter serang (diperkirakan $ 250 juta) cukup untuk membeli delapan hingga 10 unit pesawat. Sebuah nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani untuk menuju negosiasi. Namun, belum ada perkembangan lebih lanjut setelah dilakukan MoU tersebut.
Sumber : defenseworld.net, Via TSM Angga Saja

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan