Ukraina dan Pemberontak Saling Tukar Ratusan Tawanan Perang

Presiden Ukraina Petro Poroshenko berbicara kepada tahanan yang dibebaskan oleh pihak separatis (27/12/2017). (Mikhail Palinchak, Presidential Press Service Pool Photo via AP)

Di penghujung 2017, Pemerintah Ukraina dan kelompok pemberontak pro-Rusia di Ukraina Timur akhirnya menjalankan kesepakatan untuk saling tukar tahanan. Ini adalah pertukaran tawanan perang terbesar sejak konflik kedua belah pihak pecah pada 2014.

Seperti dilansir oleh kantor berita BBC, Kamis (28/12/2017), Pemerintah Ukraina menyerahkan 230 tahanan ke pihak separatis. Sebagai gantinya, mereka menerima 74 tahanan dari para pemberontak.

Itu adalah pertukaran pertama sejak terakhir kali dilakukan 15 bulan lalu.

Pertukaran tahanan tersebut merupakan salah satu poin dalam perjanjian damai Minsk yang ditandatangani pada 2015.

Jumlah tahanan yang ditukar lebih sedikit dengan yang diumumkan sebelumnya. Pasalnya, puluhan orang yang rencananya diserahkan ke pihak pemberontak menolak untuk dikembalikan.

“Beberapa dari mereka telah dibebaskan dan dakwaannya telah dihapuskan oleh Otoritas Ukraina. Namun mereka lebih memilih untuk tetap berada di sisi yang dikontrol pemerintah,” ujar juru bicara Komite Palang Merah Internasional di Ukraina, Miladin Bogetic.

Sementara itu menurut laporan AFP, dua warga Ukraina, yakni seorang pria dan wanita, memilih untuk tetap berada di sisi pemberontak.

Negosiasi pertukaran tahanan yang dilakukan selama berbulan-bulan itu melibatkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, dan Kepala Gereja Ortdoks Rusia.

Pada pertukaran itu, bus dan kendaraan lain yang membawa tahanan berkumpul di pos pemeriksaan Mayorsk di dekat kota Horlivka, Donetsk.

Seorang sejarawan yang ditangkap oleh pihak pemberontak karena dicurigai menyimpan senjata, Igor Kozlovsky, mengatakan masih banyak yang ditahan di Donetsk.

Baca Juga:  Partai Komunis Israel Gelar Aksi Dukung Kemerdekaan Palestina

Pemberontak Pro Rusia tampak mengawal bus yang membawa tawanan perang. Foto: AFP

“Saya berada di tempat penahanan selama dua tahun…Masih banyak tahanan masih di sana (Donetsk),” ujar Kozlovsky.

Pemerintah Inggris mengatakan pertukaran tahanan itu merupakan langkah awal untuk memenuhi komitmen yang telah dibuat oleh kedua belah pihak.


Konflik di Ukraina timur pecah pada April 2014, tak lama setelah Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea. PBB mengatakan, lebih dari 10.000 orang tewas di Donetsk dan Luhansk akibat konflik tersebut.

 

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan