160 Orang Tewas Dibantai Kelompok Jihad Islam di Burkina Faso

Pada 4 Juni, setidaknya 160 warga sipil, termasuk “sukarelawan anti-terorisme” tewas dalam rangkaian serangan paling berdarah di Burkina Faso sejak 2015.

Serangan di wilayah utara negara Afrika Barat yang bergejolak, diluncurkan dalam waktu beberapa jam di dua tempat yang berbeda, menyebabkan ratusan orang tewas, termasuk 120 anak-anak.

Pembantaian terbesar terjadi di Solhan, ibu kota wilayah dengan nama yang sama di dekat perbatasan dengan Mali dan Niger di zona yang disebut “tiga perbatasan”. Kota ini dikenal sebagai persimpangan jalan bagi ribuan calon penambang emas.

Peta kondisi di afrika tengah, foto: AFP via Manila Times

Para penyerang memasuki kota dengan sekitar 20 sepeda motor. Pada awalnya mereka menargetkan pos terdepan dari Relawan untuk Pertahanan Tanah Air (VDP), pasukan tambahan Angkatan Bersenjata dalam perang melawan terorisme.

Kemudian para teroris bergerak menuju rumah-rumah di mana mereka membantai warga sipil tanpa pandang bulu. Para penyerang juga menjarah, membakar toko-toko dan membakar kendaraan sebelum melarikan diri.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi dua kelompok utama yang beroperasi di daerah tersebut telah diidentifikasi sebagai pelaku: yaitu kelompok jihad lokal yang terafiliasi dengan jaringan al Qaeda dan kelompok Negara Islam di Sahara Besar.

Angkatan bersenjata dilaporkan tiba satu sampai dua jam setelah para jihadis pergi.

“Unit-unit militer diperkirakan berjarak sekitar 20 km, namun para penyerang dapat melakukan pembunuhan tanpa dicegat,” kata jurnalis Vincent Hugeux.

Baca Juga:  Drone Houthi Yaman Hantam Bandara Arab Saudi, Satu Pesawat Rusak

Serangan itu terjadi hanya beberapa minggu setelah kunjungan Menteri Pertahanan Burkinabe, Chérif Sy ke wilayah tersebut, yang kunjungannya dimaksudkan untuk menunjukkan kembalinya otoritas pemerintah setelah berbulan-bulan perambahan jihadis.

“Waktunya sangat buruk,” kata Hugeux. “Menteri pertahanan telah mengunjungi detasemen Sebba pada kesempatan itu dan dengan tidak bijaksana menyatakan kembali normal.”

Korban pertama pembantaian adalah anggota VDP, sebuah kelompok yang terdiri dari sukarelawan sipil yang menerima pelatihan militer dua minggu dan dikerahkan untuk mendukung kontra-pemberontakan.

Sementara VDP telah mencapai keberhasilan yang signifikan di beberapa wilayah, banyak analis mengatakan bahwa mereka juga telah mengekspos penduduk sipil sebagai pembalasan.

Apapun alasannya, warga sipil semakin menjadi sasaran di Burkina Faso. Pengepungan di Solhan didahului beberapa jam sebelumnya oleh serangan lain di desa Tadaryat, di mana setidaknya 14 orang, termasuk seorang tentara sipil, tewas.

Seminggu sebelumnya, empat orang – termasuk dua anggota VDP – tewas dalam dua serangan lain di daerah yang sama.

Channel Militermeter

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan