Amerika Akan Aktifkan Lagi Pangkalan Udara di Pulau Tinian

Pada tanggal 1 Desember 2020, media militer The Warzone melaporkan bahwa Kementrian Pertahanan Amerika Serikat akan menjalankan rencana untuk membangun pangkalan udara di Pulau Tinian, di wilayah Samudera Pasifik.

Pulau Tinian terletak sekitar 100 mil di utara Andersen AFB, yang berada di Pulau Guam. Rencana pembangunan ini sejalan dengan proses ekspansi pangkalan-pangkalan udara US di Pasifik, sebagai persiapan untuk menghadapi China dalam sebuah peer-level conflict.

Andersen AFB merupakan pangkalan penting yang menjadi basis mayor untuk operasi-operasi udara USAF apabila terjadi konflik di kawasan Pasifik, terutama sebagai lokasi penempatan pengebom-pengebom strategis yaitu B-2 Spirit, B-52 Stratofortress, dan B-1B Lancer.

Akan tetapi karena pentingnya peran pangkalan tersebut, Andersen AFB dapat menjadi sasaran prioritas bagi misil balistik negara lawan potensial US, terutama China. Jika Andersen dilumpuhkan bukannya tidak mungkin operasi penerbangan militer US di kawasan Pasifik juga mengalami kelumpuhan, maka dari itu persiapan pangkalan udara alternatif menjadi hal yang penting dalam persiapan US untuk menghadapi peer-level conflict dengan China.

Salah satu pangkalan udara yang sedang disiapkan oleh US adalah pangkalan di Pulau Wake yang berjarak sekitar 1,500 mil dari Guam. Akan tetapi peran Pulau Wake lebih kepada titik untuk melaksanakan airpower staging. Untuk menjalankan dislokasi kekuatan udara demi menjamin keselamatan kekuatan dari musuh dalam tahap pembuka perang, US perlu mengembangkan pangkalan udara di Pulau Tinian.

Baca Juga:  Parade Tank Korea Utara 2017, Ngeri Juga Arsenalnya

Sebelumnya, Pulau Tinian memang pernah digunakan oleh kekuatan udara US sebagai staging base untuk melaksanakan serangan pengebom ke mainland Jepang. Tinian menjadi pangkalan B-29 Superfortress USAAF dengan dua runway utama, yaitu West Field dan North Field. Tinian juga memiliki nilai historis sebagai titik keberangkatan B-29 Silverplate Enola Gay serta Bockscar, yang menjatuhkan bom atom Little Boy dan Fat Man di kota Hiroshima dan Nagasaki. Pasca perang, Tinian terus didominasi oleh keberadaan militer US hingga tahun 1978 menjadi bagian dari Commonwealth of the Northern Mariana Islands.

Runway, apron dan struktur pendukung di pangkalan udara Tinian perlahan-lahan mulai tidak terawat, akan tetapi salah satu runway di North Field masih digunakan sebagai austere airfield untuk latihan pesawat transport taktis seperti C-130. Austere runway di North Field ini tidak mampu menerima pesawat-pesawat fighter dan bomber yang biasa berada di Andersen AFB. Terdapat juga austere runway di West Field masih bisa digunakan fighter, namun fasilitas tersebut berukuran kecil sehingga hanya mampu mendukung operasi sementara. USMC pernah menggunakan runway West Field untuk latihan operasi F/A-18 Hornet, yang mendarat di runway menggunakan bantuan arresting gear. West Field tidak memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung operasi penerbangan jangka panjang.

USAF sekarang berencana untuk membangun kembali pangkalan udara di Tinian dengan kemampuan full-on operation. Pangkalan baru ini akan mampu menerima pesawat-pesawat yang dialihkan apabila Andersen AFB dilumpuhkan sementara, dan juga dapat digunakan sebagai basis untuk operasi tempur. Rencana ini melibatkan lease deal dengan durasi 40 tahun dan akan memanfaatkan Tinian International Airport yang memiliki runway sepanjang 2,500 m. Sebelum pensiun, Gen. Mark Welsh yang pada tahun 2016 menjabat sebagai Chief of Staff USAF mengatakan bahwa infrastruktur Tinian akan ditingkatkan untuk mendukung hingga 12 pesawat tanker. Latihan tahunan akan dilaksanakan di Tinian dengan durasi hingga 8 minggu.

Baca Juga:  AD Malaysia Gunakan Teknologi VIRTSIM untuk Tingkatkan Kemampuan Pertempuran Anggota Angkatan Darat

Pembangunan pangkalan udara di Tinian akan memberikan opsi alternatif dan pengurangan resiko, sehingga kekuatan udara US di Pasifik tidak terlalu bersandar pada Andersen. Bagi pihak lawan, penghancuran dua pangkalan udara yang dipertahankan dengan sistem pertahanan misil juga lebih sulit untuk dieksekusi dan tentunya lebih mahal. Tidak hanya Tinian, militer US juga mulai melaksanakan proyek-proyek lapangan udara lainnya di kawasan Pasifik dan dimaksimalkan dengan konsep operasi agile deployment untuk mengurangi kerentanan elemen garis depan terhadap serangan musuh.

Sumber: Hex/lightingIIChan

https://www.thedrive.com/the-war-zone/37885/air-force-to-build-alternate-airbase-on-tinian-island-in-case-guam-gets-knocked-out

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan