Batalyon Azov, Organisasi Neo Nazi Yang Bikin AS dan NATO Enggan Bantu Ukraina

Azov adalah Milisi berideologi Neo NAZI, yang pernah dilarang oleh AS, tapi menjadi bagian dari Garda Nasional Ukraina. Faham Neo Nazi adalah faham yang menyakini bahwa selain ras kulit putih tidak berhak hidup di Eropa dan Ras Kulit Putih lebih mulia dari ras etnis lainya.

Ketika Rusia mencaplok Krimea pada Februari 2014, ia tidak menghadapi perlawanan militer. Ukraina tidak memiliki jumlah pasukan siap tempur yang memadai untuk melakukan pertahanan. Selanjutnya, ketika separatis yang didukung Rusia mengambil alih gedung-gedung pemerintah di wilayah Donbas Ukraina timur sebagai awal pemberontakan penuh, militer Ukraina kembali terbukti tidak mampu memadamkan pemberontakan. Dengan latar belakang inilah Batalyon Azov dibentuk pada Mei 2014.

Azov awal didirikan sebagai unit infanteri militer yang terdiri dari sukarelawan sipil yang diambil dari kelompok neo-Nazi sayap kanan yang aktif di Ukraina, seperti geng Patriot Ukraina dan Majelis Nasional Sosial (SNA). Dengan kelompok pejuang yang bermotivasi tinggi, unit Azov merebut kembali kota pelabuhan strategis Mariupol dari separatis. Menyusul kemenangan militer yang penting ini — yang tidak bisa dilaukan militer Resmi Ukraina — unit Azov diintegrasikan ke dalam Garda Nasional Ukraina pada November 2014.

Pada tahun 2016, Azov mendirikan sayap politiknya, Partai Korps Nasional, di bawah kepemimpinan Andriy Biletsky, seorang ultra-Nasionalis yang merupakan Anggota Parlemen dari 2014 hingga 2019 dan telah mengatakan dalam kampanye nya untuk menjadikan Ukrain “memimpin ras kulit putih dunia dalam perang salib terakhir… melawan bangsa semit dan bangsa rendahan lainya”.

Baca Juga:  Pesawat Rafale India Akan Tiba Mulai September 2019

Seragam militer Azov menampilkan lencana Nazi dan para pejuangnya telah difoto dengan tato simbol Nazi seperti swastika. Pada malam peluncuran Azov sebagai Korps Resmi Garda Nasional, para anggotanya melakukan pawai dengan obor dengan kepalan tangan ala Nazi di jalan-jalan Kyiv.

Anggota milisi Azov juga melakukan patroli dan razia jalanan dengan alasan menegakkan apa yang disebut ‘tatanan Ukraina’, mereka diketahui menyerang Etnis Gipsy dan etnis minoritas lainnya, dan acara LBGT. Garda Nasional Ukraina telah merilis video pejuang Azov yang mengolesi peluru dengan lemak babi, tampaknya untuk digunakan melawan Muslim Chechnya yang bertempur di antara pasukan Rusia.

Dua badan HAM Internasional, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dan Amnesty International, telah menuduh Militan Azov, melakukan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penyiksaan, penculikan, dan eksekusi di luar hukum.

Selama bertahun-tahun, sikap AS terhadap Batalyon Azov berubah-ubah berdasarkan kepentingan Washington. Pada 2015, Kongres AS mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa bantuan militer untuk Ukraina tidak dapat digunakan untuk mendanai, mempersenjatai, atau melatih Batalyon Azov.

Namun pada 2016, larangan itu dibatalkan, karena tekanan Pentagon. Sejak itu, selalu ada upaya penjegalan ketika anggota Kongres AS ingin memasukkan Azov sebagai ‘Organisasi Teroris Asing’. Sejak ada dukungan Pentagon, saluran media sosial Azov penuh dengan video pelatihan anggota milisi dengan senjata buatan Amerika.

Baca Juga:  Perancis Ganti Senjata Organik FAMAS dengan HK416F

Kontradiksi serupa juga diperlihatkan, misalnya, dalam cara Facebook bereaksi terhadap Azov. Pada 2016, mereka menetapkan batalion Azov sebagai “organisasi berbahaya”. Pada 2019, ia menempatkan Azov dalam kategori yang sama dengan ISIS dan mencekal semua postingan tetang Azov.

Tapi setelah invasi Rusia pada 24 Februari, Facebook membatalkan larangan tersebut, memungkinkan ekspresi pujian untuk Azov. Secara signifikan, Azov selalu memiliki dimensi pan-Ukraina, dengan tautan terdokumentasi ke kelompok supremasi kulit putih Amerika seperti Rise Above Movement (RAM) yang memiliki pejuang sukarelawan dari berbagai bagian Eropa. Secara teratur mengadakan kamp pelatihan militer untuk warga sipil, termasuk anak-anak, dan telah mencoba membangun sub-budaya yang ‘keren’ seputar nasionalisme, militerisme, dan olahraga fisik – turnamen seni bela diri campurannya cukup populer. Juru bicaranya telah menegaskan kembali niat mereka untuk akhirnya ‘mengambil alih’ Kyiv dan mengatakan Ukraina membutuhkan seorang diktator untuk memperbaiki keadaan.

Inilah yang bikin NATO dan Amerika mundur dalam menyokong Ukraina dalam perang melawan Rusia ini. Mereka seperti kena buah simalakama. Jika menang dan berhasil memukul mundur Rusia dari Ukraina, maka negara itu akan menjadi negara pertama di dunia dengan ideologi Nazi Baru (Neo Nazi) itu sama mengerikan dengan membiarkan ISIS menjadi negara merdeka.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan