Begini Isi Perjanjian Damai Amerika dan Taliban

Pada tanggal 29 Februari 2020, pihak Amerika Serikat (AS) dan Taliban menandatangani perjanjian yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian di Afghanistan. Perjanjian ditandatangani oleh perwakilan Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar dan Special Representative Zalmay Khalilzad di Doha, Qatar.

Berikut beberapa poin utama dari perjanjian yang telah dibuat selama 18 bulan tersebut:

1. Nama lengkap perjanjian di teks adalah “Agreement for Bringing Peace to Afghanistan between the Islamic Emirate of Afghanistan which is not recognized by the United States as a state and is known as the Taliban and the United States of America”. AS tidak mengakui Taliban sebagai sebuah negara.

2. AS dan koalisinya akan berkomitmen menarik mundur kekuatan militernya dari Afghanistan dalam waktu 14 bulan. Dalam 135 hari pertama, pasukan akan ditarik mundur dari 5 pangkalan militer dan jumlah pasukan AS akan dikurangi menjadi 8,600 personnel.

2. Taliban tidak akan memperbolehkan anggotanya, individu maupun kelompok manapun (termasuk AQ) untuk menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis untuk mengancam AS dan sekutunya. Taliban juga tidak akan bekerjasama dengan mereka yang ingin mengancam AS maupun sekutunya.

3. AS akan akan melepaskan 5,000 orang tahanan Taliban. Taliban juga akan melepaskan 1,000 tawanan mereka.

4. Akan diadakan dialog intra-Afghan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban untuk membahas hal-hal seperti gencatam senjata, pembagian kekuasaan dan hak kaum wanita. AS, PBB, Jerman dan Indonesia diperkirakan akan hadir untuk mendukung dan memfasilitasi perbincangan.

Baca Juga:  Raytheon Berambisi Gusur Rudal Anti Kapal Harpoon Boeing

5. AS akan melakukan review dan menghapuskan sanksi dari AS sendiri maupun dari PBB terhadap beberapa anggota Taliban.

Langkah AS ini dikritik sebagai kekalahan tapi nyatanya, ini adalah yang dijanjikan Donald Trump saat kampanye dulu. Bahwa biaya yang dikeluarkan AS untuk menjaga konflik terlalu besar dan boros.

AS selama ini menjadi polisi dunia dengan memelihara konflik bukan menyelesaikanya. Yang berdampak pada tingginya biaya perang. Kekuataan Adidaya AS harusnya digunakan untuk memadamkan konflik.

Satu per satu, Trump menarik AS dari konflik mulai dari pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara, menarik mundur pasukan dari Irak dan Suriah, dan terbaru keluar dari Afghanistan.

Trump juga memotong dana subsidi untuk NATO dan anggaran patroli udara di Eropa.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan