Dibalik Invasi Rusia ke Ukraina: Sengaja Bikin Krisis Pangan Dunia Agar Dollar Amerika Kolaps

Vladimir Putin Presiden Rusia. Foto: AFP

Vladimir Putin telah sejak lama menyuarakan agar dollar Amerika tidak dijadikan mata uang tunggal dalam perdagangan internasional. Dalam sejarah agresi Amerika, siapa pun yang bersuara lantang dan mencoba menolak hemegoni dollar akan dibabat tuntas sampai habis.

Contohnya adalah Moammar Ghadafi, dia mensyaratkan minyak dan gas bumi Libya dibeli dengan emas, walhasil AS dan NATO menginvasi Libya dan membunuhnya. Demikian juga dengan Saddam Hussein di Irak dan rezim Taliban di Afghanistan.

Hanya Venezuela yang sampai sekarang masih selamat dari Invasi tapi ekonominya dilumpuhkan total. Almarhum presiden Hugo Chavez hingga penggantinya Maduro tetap terang-terangan menolak pakai dollar.

Sudah sejak lama Putin berambisi menginvasi Ukraina sejak aneksasi Krimea tahun 2018. Tapi dia menunggu memontum karena perang yang dia ciptakan harus punya efek berantai ke seluruh dunia jika bisa menggoyahkan sendi-sendir dasar kapitalisme barat yang pondasinya adalah dollar Amerika.

Momentum itu tiba dengan adanya pandemi, negara-negara di dunia menyadari bahwa adanya “lock down” telah menyadarkan mereka tentang kebutuhan pangan yang ternyata hampir di semua negara di dunia lebih banyak diimpor dari luar negeri daripada hasil dalam negeri.

Celakanya, negara-negara penghasil bahan pangan seperti Ukraina tidak sekaya dan sekuat negara-negara penghasil minyak bumi seperti negara-negara Arab.

Ukraina adalah salah satu negara utama penghasil gandum di Dunia, setelah diserang Rusia, pasokan gandum di dunia langsung goyah dan harganya naik tinggi. Negara-negara yang tabungan devisa-nya minim dan punya banyak hutang luar negeri seperti Sri Lanka, Myanmar dan Laos langsung goyah.

Baca Juga:  Buka Medan Perang Baru, AS Sedang Membidik Iran?

Dua kebutuhan pokok langsung naik, pertama Harga Gandum dan kedua Harga Minyak.

Sri Lanka contohnya, celengan devisa negara menipis karena harus bayar cicilan hutang dan membeli vaksin. Eh harga gandum yang harus diimpor untuk memberi makan rakyat juga naik. tambah merana karena harga BBM juga naik. Walhasil devisa negara habis, negara enggak mampu mengimpor bahan pangan dan BBM dari luar negeri. Terjadi krisis, negara bangkrut.

Negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC bersikap netral. Mereka menolak menaikkan jumlah produksi sehingga harga minyak melambung tinggi karena diborong negara-negara barat yang anti Rusia. Sedangkan yang netral dan pro Rusia tetap menikmati harga minyak murah, tapi juga was-was mau beli karena diancam sanksi Amerika dan sekutunya.

Ini yang bikin krisis terutama negara-negara yang punya banyak hutang seperti Sri Lanka, mereka harus membagi uang negara (devisa) untuk membayar cicilan hutang, membeli minyak dan bahan pangan.

China juga diuntungkan dengan situasi ini karena negara-negara yang terlilit hutang denganya akan makin mudah dikuasai saat krisis atau kolaps.

Amerika Serikat juga mulai terkena dampaknya dengan inflasi dan krisis bahan pangan.

Rusia bisa dikatakan menang besar sekarang, invasi ke Ukraina berhasil menimbulkan efek berantai ke negara-negara musuhnya sesuai tujuan awalnya. Menciptakan krisis pangan dan inflasi.

Sekarang tinggal menunggu tujuan utamanya tercapai, yaitu memaksa negara-negara yang sudah kehabisan devisa seperti Sri Lanka dll, untuk bertransaksi menggunakan mata uang selain dollar agar bisa membeli minyak dan gandum dari Rusia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan