Indonesia dan ASEAN Menentang Konflik AS vs China di Laut China Selatan

Ketegangan antara China dan Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan telah menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara ASEAN karena mengancam stabilitas kawasan.

Meski tak memiliki sengketa wilayah di LCS, AS terus menentang klaim historis China di perairan itu yang dianggap Negeri Paman Sam sebagai wilayah internasional yang sah dilewati oleh siapa saja.

AS juga terus meningkatkan kehadiran alat perangnya di kawasan ASEAN.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah mengatakan Indonesia dan negara-negara ASEAN tidak akan terjebak dalam rivalitas di Laut China Selatan (LCS).

Hal itu disampaikan Teuku dalam pers briefing Kementerian Luar Negeri, Kamis (13/8).

“Yang ingin saya tegaskan kembali bahwa Ibu Menlu, dalam konteks merayakan ulang tahun ASEAN, telah mendorong dikeluarkannya ASEAN Foreign Ministers’ Statement On The Importance of Maintaining Peace and Stability in Southeast Asia,” ujar Teuku.

Pada intinya, dia menyatakan stabilitas di kawasan LCS tidak hanya penting bagi Indonesia, namun juga penting bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Dia juga menekankan, upaya menjaga stabilitas kawasan harus didasarkan pada dokumen ASEAN sebagai kawasan yang damai, bebas, dan netral sesuai posisi yang tertuang dalam prinsip-prinsip Zone of Peace Freedom and Neutrality.

Laut China Selatan menjadi perairan rawan konflik terutama setelah China mengklaim sepihak sebagian besar wilayah perairan itu. Klaim historis Beijing itu bertabrakan dengan wilayah kedaulatan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, bahkan hingga Taiwan.

Baca Juga:  Koopsau III TNI AU Kirim Bantuan ke Wamena

Sebelumnya pada 30 Juli, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa pemerintah Indonesia tidak menginginkan sengketa wilayah yang terjadi di LCS semakin tajam dan mengarah kepada konflik terbuka atau peperangan. Merujuk pada ketegangan antara AS-China.

Menurut dia Indonesia tetap konsisten menghormati Konvensi Hukum Laut Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) sebagai panduan dalam sengketa di Laut China Selatan.

Lalu pada 7 Agustus, Retno memperingatkan AS bahwa setiap konflik terbuka yang terjadi di LCS tidak akan menguntungkan pihak manapun.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat berbicara dengan Menlu AS Mike Pompeo via telepon pada 3 Agustus lalu.

Dia juga menekankan kembali kepada Pompeo terkait posisi Indonesia yang ingin terus menjaga agar perairan tersebut tetap stabil dan damai. Pernyataan itu diutarakan Retno ketika eskalasi ketegangan antara AS dan China terus meningkat di Laut China Selatan.

Dalam beberapa waktu terakhir, China dan AS terus berlomba mengerahkan pesawat dan kapal militernya ke Laut China Selatan baik untuk patroli maupun menggelar latihan.
Sumber: cnnindonesia.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan