Mengenal Bomb Retarder

Bomb retarder adalah perangkat pada bom udara yang ditambahkan untuk memperlambat jatuhnya bom tersebut dengan menciptakan hambatan aerodinamik. Bomb retarder berfungsi untuk memberikan waktu yang cukup bagi pesawat pelepas bom agar dapat kabur dari zona ledakan bom, terutama bagi pesawat-pesawat yang menjatuhkan bom di ketinggian rendah.

Bomb retarder mulai terlihat dipakai di Perang Dunia II. Ketika USAAF menyerang pangkalan-pangkalan Jepang yang terletak di kawasan Pasifik, senjata yang kerap digunakan adalah parafrag bomb AN-M40. Parafrag merupakan bom kecil seberat 11 kg yang dijatuhkan oleh pesawat yang terbang rendah. Retarder untuk bomb tersebut adalah parasut yang dipasang di bagian ekor. Parafrag digunakan terutama untuk mensaturasi pangkalan udara Jepang dan menghajar pesawat-pesawat yang terparkir. Selain parafrag, terlihat senjata udara lain yang dijatuhkan dengan parasut adalah parachute mine, yaitu ranjau laut yang diluncurkan dari pesawat.

Tidak hanya senjata konvensional, parasut juga dimanfaatkan sebagai retarder untuk senjata nuklir. Pesawat pembawa senjata nuklir dapat melaksanakan laydown delivery, yaitu penjatuhan senjata dari ketinggian yang sangat rendah. Untuk itu senjata nuklir perlu diperlambat supaya pesawat memiliki kesempatan untuk kabur dari zona efek ledakannya. Senjata nuklir yang dilengkapi dengan parasut dapat memungkinkan senjata untuk dijatuhkan dari ketinggian 150 kaki hingga hanya 50 kaki.

Seiring waktu berjalan, dikembangkan bomb retarder dalam bentuk lain yaitu sirip khusus. Saat berlangsungnya Perang Vietnam, USAF mengembangkan Snakeye untuk bom tak berpemandu Mk 82 dan Mk 81.

Baca Juga:  10 Rudal Jarak Jauh Iran

Snakeye, atau nama resminya Mark 14 TRD (Tail Retarding Device) adalah sirip yang membuka dengan bentuk tanda salib saat senjata dilepaskan dari pesawat. Mk 81 dan Mk 82 yang dilengkapi dengan Mark 14 TRD kemudian dikenal sebagai Mk 81/Mk 82 Snakeye. Nama Snakeye datang dari permainan judi dadu Craps, dimana sepasang dadu nomor satu (layaknya sepasang mata) dianggap sebagai lambang keberuntungan.

Bomb retarder yang lebih modern lagi digunakan USAF mulai berlangsungnya Perang Teluk, yaitu retarder berbentuk kantung udara. Dikenal dengan nama ballute (gabungan dari kata balloon dan parachute) kantung udara tersebut memiliki bentuk yang mirip seperti kue muffin dan membuka dari bagian belakang ekor bom ketika bom dilepaskan oleh pesawat. Meskipun berbentuk seperti balon, alat ini memiliki fungsi seperti parasut yaitu untuk menghasilkan hambatan udara.

Ballute memiliki keunggulan desain yang lebih cocok dalam memperlambat objek berkecepatan supersonik ketimbang parasut. Untuk bom Mk 82, variannya yang memiliki ballute adalah Mk 82 AIR (Air Inflatable Retarder) yang dilengkapi dengan tailkit BSU-49, sedangkan Mk 84 AIR yang lebih berat di angka 2,000 pon dilengkapi dengan tailkit BSU-50. Pilot dapat mengatur konfigurasi bom ketika dijatuhkan, apakah dengan mode high-drag (ballute dibuka) atau dengan mode low-drag (ballute tetapi ditutup).

Sumber: FP Lighting Ii Chan-Hex

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan