Mundurnya Rusia Dari Kiev Bukan Karena Kalah Tapi Taati Perjanjian di Turki

Propaganda kekalahan Rusia di Kiev begitu gencar selama sepekan terakhir, seakan lupa bahwa mundurnya Rusia dari Kiev adalah hasil dari kesepakatan perjanjian di Istanbul pekan lalu.

Selama penarikan mundur, justru terjadi serangan terhadap personel militer Rusia hingga adanya eksekusi terhadap tawanan perang Rusia oleh Ukraina.

Hal ini memicu kekhawatiran meledaknya amarah Rusia. Selama invasi, Rusia belum mengerahkan semua potensi militernya terutama kekuatan rudal balistiknya. Sejak era Nikita Kruschev (Pemimpin Uni Soviet 1960) arah daya deteren militer Rusia (dulu Uni Soviet) sudah berubah dari kekuataan di udara ke kekuatan rudal balistik.

Serangan Rusia ke Ukraina masih cukup beradab jika dibandingkan dengan invasi Amerika dan NATO ke Irak atau Libya. Sebelum melakukan serangan darat, AS dan NATO telah menghujani lebih dulu kota-kota penting di Irak dan Libya dengan rudal Tomahawk.

Sedangkan Rusia tidak melakukan itu, mereka “cuma” mengandalkan pembom-an dari pesawat tempur yang beresiko tertembak sistem arhanud. Sedangkan serangan kedua cuma mengandalakan peluncur roket. Baru beberapa pekan terakhir ini, rudal Iskander dikerahkan. Padahal jika dari awal Rusia mau menggunakan rudal Iskander “saja” Kiev dan Kota-kota lain sudah bisa ditaklukkan.

Berikut ini poin-poin perjanjian yang disepakati pihak Ukraina dan Turki di Turki tersebut:

Poin-poin dari pihak Ukraina:

  • Israel, Polandia, Kanada, dan Turki menjadi negara-negara potensial sebagai “negara penjamin”.
  • Pihak Ukraina juga berencana untuk mengajukan proposal kepada pihak Russia untuk membahas status Krimea dalam 15 tahun kedepan
  • Ukraina mempertimbangkan negaranya untuk mempunyai “neutral status”, dengan adanya “neutral status” maka tidak ada negara manapun yang bisa menaruh pangkalan militernya di Ukraina
Baca Juga:  Rusia Sebut Perlakuan Tawanan Perang oleh Ukraina Tidak Manusiawi

Dikatakan poin-poin diatas sudah disampaikan ke pihak Russia dan menunggu persetujuan dari Kremlin.

Poin-poin dari pihak Russia:

  • Kremlin mengatakan bahwa pihaknya membutuhkan waktu 2 hari untuk apakah mereka akan menyetujui hasil negosiasi ini atau tidak
  • Kementerian Pertahanan Russia menyatakan bahwa pihaknya akan mengurangi aktivitas militer secara drastis terutama di sekitar Kyiv dan Chernihiv.

Negara-negara barat berpendapat bahwa Russia dari awal tidak pernah serius dalam negosiasi ini. Bahkan pejabat AS menganggap bahwa penarikan pasukan Russia dari Kyiv merupakan “redeployment, not withdrawal”.

Perdana Menteri Inggris mengatakan bahwa Ukraina harus tetap dalam kondisi siaga meskipun aktivitas militer Russia di sekitar kyiv sudah mereda.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan